3 Jenis Tauhid

MENGENAL TAUHID

Oleh : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

fdgfdgSebelum mengetahui tentang jenis-jenis Tauhid, maka sebaiknya makna tauhid sendiri harus dipahami terlebih dahulu. Adapun Makna tauhid adalah mengesakan Allah dalam Kerububiyahannya , keuluhiyahannya, dalam nama-nama dan sifat-sifatnya beserta hukum-hukum di dalamnya. Jenis tauhid sendiri ada 3 jenis :

PERTAMA : Tauhid Rububiyah

Yaitu yang kaum kafir pada zaman Rasulullah shalallahu alaihi wassallam membenarkannya   (dan tidak mengingkari tauhid ini. Pent) akan tetapi Rasulllah shalallahu alaihi wassallam memerangi mereka dan (pembenaran mereka itu) tidak memasukkan mereka ke dalam Islam dan Rasulullah shalallahu alaihi wassallam menghalalkan darah dan harta mereka. Adapun yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah dengan segala perbuatanNya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

Artinya : Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

Dan ayat-ayat yang serupa dengan ini sangat banyak

KEDUA : Tauhid Uluhiyah atau disebut juga Tauhid Ibadah

Yaitu Tauhid yang di dalamnya terjadi perselisihan (antara mukmin dan musyrik.pent) sejak zaman yang lampau hingga zaman ini. Yaitu mentauhidkan Allah dalam segala jenis peribadahan, dalilnya diantaranya adalah firman Allah ta’ala :

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Dan juga firmanNya

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)

Makna Ibadah sendiri adalah  segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai. Dan beberapa contoh perbuatan Ibadah diantaranya adalah :

1.  Berdoa

Allah ta’ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya : “Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina”. (QS. Ghaafir : 60).

Dan doa terbagi dua :

Pertama : Doa Ibadah, seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji dan ibadah-ibadah lainnya. Ibadah-ibadah ini teranggap sebagai doa, dikarenakan di dalamnya terkandung doa, yaitu agar dimasukkan surga dan dijauhkan dari Neraka dengan sebab mengerjakan amalan tersebut. Dan doa Ibadah ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata, apabila ditujukan kepada selainnya maka pelakunya telah terjatuh dalam perbuatan syirik akbar.

Kedua : Doa Masalah, seperti meminta Rejeki, meminta keturunan atau meminta dilepaskan dari suatu kesulitan.

Doa masalah boleh ditujukan kepada selain Allah dengan dipenuhinya seluruh dari 3 syarat tanpa ada satupun yang tidak terpenuhi, yaitu :

- Hidup, yakni maknanya tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah mati atau meminta tolong kepada batu, pohon dan semisalnya

- Hadir, Yakni maknanya yang dimintai tolong dapat berhubungan langsung dengan yang meminta tolong baik secara bertatap muka ataupun melalui alat perantara seperti Telepon, surat dan sebagainya. Sehingga tidak boleh diperbolehkan bagi seseorang meminta tolong kepada orang lain yang terpisah dalam jarak yang jauh tanpa adanya perantara yang zhohir. Seperti memanggil-manggil sang guru ketika terancam bahaya dalam keadaan sang guru terpisah jarak yang sangat jauh, dan dia berkeyakinan bahwa sang guru saat itu mampu mendengar permintaan tolongnya.

- Mampu, yakni maknanya yang dimintai bantuan memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan, sehingga tidak diperbolehkan bagi seseorang meminta kepada orang lain untuk diberi keturunan, diturunkan hujan atau dipanjangkan umur, karena semua kemampuan ini tidak dimilki oleh mahluk dan hanya Allah yang memilkinya.

2. Nadzar, yaitu seorang hamba mewajibkan kepada dirinya sendiri dengan suatu perkara atau suatu ketaatan kepada Allah yang perkara tersebut pada asalnya bukan perkara yang diwajibkan bagi dirinya menurut syariat.

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

Artinya : “Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana”. (QS. Al-Insaan : 7).

3. Berkurban, yaitu menghilangkan nyawa hewan dengan cara menumpahkan darah dan dengan cara-cara yang khusus

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ المُسْلِمِينَ َ

Artinya : “Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku, hidupku dan  matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada-Nya)“. (QS. Al-An’am : 162-163)

4. Roja’ yaitu harapan yang besar dari seorang hamba untuk memperoleh suatu perkara yang dekat untuk dicapai atau sesuatu yang jauh akan tetapi dia menjadikannya seakan-akan dekat untuk dicapai. (Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya : “Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi : 110).

Roja’ ibadah seperti Roja’ untuk dimasukkan ke dalam surga, dihindarkan dari neraka, disembuhkan dari penyakit dll. (Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Sholih bin Abdul Azis Alu Syaikh)

5. Khouf

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya : “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman“. (QS. Ali ‘imran : 175).

Khouf (rasa takut) terbagi 3 jenis :

Pertama : Khouf tabiat seperti rasa takut terhadap api, binatang buas atau senjata tajam. Maka rasa takut yang seperti ini adalah perkara yang wajar selama rasa takut tersebut tidak sampai membuat seseorang meninggalkan perkara yang wajib.

Kedua : Khouf Ibadah yaitu rasa takut seseorang terhadap sesuatu yang diringi dengan penyembahan kepada yang ditakuti. Maka takut yang seperti ini tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Ketiga : Khouf tersembunyi (samar) seperti rasa takut terhadap mayit dalam kubur, Jin-jin penunggu laut dan semisalnya. Dan para ulama mengatakan bahwa rasa takut seperti ini termasuk dari perbuatan syirik,

(Silahkan merujuk Syarah Utsuluts Tsalatsah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

6. Tawakkal, Berkata Syaikh Syaikh Zayd bin Hady Al Madkhaly : ” Tawakkal yaitu menyandarkan kepada Allah segala urusan dari segala urusanmu dan menyerahkan segenap perkara kepada Allah semata, tidak kepada selainnya”  (At thoroqu wushul ila iydohi tsalastail ushul)

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya : “Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maa’idah : 23).

7. Roghbah, yaitu mengharap sesuatu yang dicintai (Syarah tsalasatil ushul, Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan)

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya : “Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan Roghbah (penuh harap kepada rahmat Kami) dan Rohbah (takut akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami”. (QS-Al-Anbiyaa : 90).

8. Rohbah, Berkata Syaikh Sholih Fauzan bin Fauzan Al Fauzan : ” Rohbah adalah termasuk dari jenis Khouf, Rohbah dan Khouf bermakna satu” (Syarah tsalasatil ushul)

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya : “Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan Roghbah (penuh harap kepada rahmat Kami) dan Rohbah (takut akan siksa Kami),, sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami”. (QS-Al-Anbiyaa : 90).

9. Inabah, yaitu kembali kepada Allah dengan menunaikan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan kepadaNya (Syarah tsalasatil ushul, Syaikh Ibnu Utsaimin)

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ

Artinya : “Dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kalian, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi)”. (QS. Az-Zumar : 54).

KETIGA : Tauhid Dzat, Nama dan Sifat Allah

Allah berfirman :

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlas : 1-4)

Dan firmanNya :

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf : 180).

Dan firmanNya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: