Inilah Uhud dan Kisah Tentangnya….

mount uhud

Inilah Uhud ….., Sebuah gunung (bukit) yang terletak di sebelah utara kota madinah , tingginya sekitar 350 meter  .  warna bebatuannya kemerah-merahan, memanjang dari tenggara ke arah barat laut dengan panjang tujuh kilometer dan lebar hampir mencapai tiga kilometer. Uhud adalah gunung terbesar dan tertinggi di Madinah , di kaki gunung uhud inilah sebuah peristiwa besar terjadi . Sebuah pertempuran antara kaum muslimin dan pasukan kafir yang datang dari Mekkah tercatat dalam sejarah terjadi di bulan Sya’ban Tahun Tiga  Hijriyah, sebagian ahli sejarah mengatakan terjadi di Bulan Syawal tahun 3 hijriyah.

Inilah Uhud……, sebuah gunung yang dicintai Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam dan para sahabatnya, begitu juga sebaliknya. Uhud mencintai Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam dan para sahabatnya .. Maka kami juga mencintaimu wahai Uhud… dan semoga engkau mencintai kami… Baca lebih lanjut

Jadwal Kajian Tauhid & Sunnah Samarinda

Jadwal Kajian Salafy Samarinda

Blog Pindah

Dikarenakan WordPress sering meletakkan Iklan di setiap halaman yang tampil, dan bisa dikatakan hampir selalu iklan yang tampil mengandung gambar atau foto tidak pantas, tidak senonoh dan melanggar syariat.

Maka untuk menghindari hal tersebut maka Blog Kami pindah ke http://alwaroqoh.blogspot.com/

 

Adakah Keutamaan Mendatangi istri di Malam Jum’at ??

Air PutihSatu keyakinan yang banyak tersebar di kalangan awam kaum muslimin, bahkan diyakini oleh sebagian dari para da’i adalah adanya keyakinan tentang keutamaan mendatangi istri (berhubungan badan) di malam Jum’at. Maka tentunya bagi seorang muslim yang cerdas , dia tidak gampang percaya dengan sesuatu keyakinan tanpa didasari oleh dalil yang kuat. Dia akan bersikap ilmiah dan berusaha mencari tahu, apakah benar keyakinan tersebut  memiliki dasar yang kuat  tersebut ataukah hanya mitos tanpa dasar ?? Apalagi yang sedang kita bicarakan ini adalah sebuah keyakinan tentang keutamaan sesuatu ditinjau dari sisi Syariat atau Agama, bukan sekedar keutamaan dari sisi kesehatan atau sisi budaya . Tentunya kita harus melihat lebih dalam dan tidak bisa sembarangan. Karena menjadikan sesuatu di dalam agama ini sebagai suatu keutamaan dalam keadaan hal tersebut bukanlah suatu keutamaan adalah bentuk dari kedustaan terhadap Allah dan RasulNya.

Singkat saja, bahwa keutamaan mendatangi istri pada malam Jum’at ini disandarkan atas 2 hadits.

HADITS PERTAMA :

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يجامع أهله في كل جمعة؛ فإن له أجرين: أجر غسله، وأجر غسل امرأته

“ Apakah kalian lemah (tidak mampu) menyetubuhi istri kalian pada setiap hari Jum’at ? Karena sesungguhnya menyetubuhi pada saat itu mendapat dua pahala: Pahala mandi (Jum’at) dan  pahala menyebabkan istri mandi (karena disetubuhi)”

 Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Ath-Thib, Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’abul Iman, Dan Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus. Baca lebih lanjut

Hukum Mahar Bagi Wanita Yang Dinikahi Tanpa Ridhonya Kemudian Dicerai

Oleh : Syaikh Muhammad Sholih Al-Utsaimin Rahimahullahu

Penanya : Saya berharap jawaban yang jelas tentang pertanyaan ini : Seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan sampai saat ini kurang lebih sudah tiga bulan. Dan diantara masa tiga bulan ini tampaklah bagi si lelaki dan juga berdasarkan ucapan sang wanita sendiri bahwa sesungguhnya pendapatnya tentang pernikahan ini yang dia nyatakan secara jelas (ketidaksetujuannya. Pent) tidak diambil oleh ibunya . Dan wanita tersebut berkata kepada suaminya, sesungguhnya dia tidak menginginkannya. Dan sungguh selama masa tersebut sang laki-laki telah membawanya ke para pembaca Al-Qur’an (yang biasa merukyah. pent) dan dia juga mencurahkan seluruh kemampuannya (untuk merubah keadaan ini. Pent) karena dia berkeyakinan bahwa sang wanita sedang sakit, akan tetapi Wallahu A’lam sang wanita hanya berpura-pura sakit karena sesungguhnya dia tidak menginginkan laki-laki ini menjadi suami untuknya.
Wahai Syaikh Yang mulia, Apa Hak sang suami dan Hak sang istri sesuai syariat di dalam permasalahan mahar apabila sang istri menginginkan Thalaq di dalam dua keadaan :
Keadaan pertama : Apabila selama masa ini sang lelaki belum mendatanginya yaitu belum memecahkan keperawanannya ??
Keadaan kedua : Apabila laki-laki tersebut sudah mendatangi wanita tersebut selama masa ini ??

Syaikh : Pertama , apabila sang lelaki menganggap bahwa sesungguhnya wanita ini jujur di dalam perkataannya , bahwa dia tidak dimintai pendapat (di dalam pernikahan tersebut) maka wajib bagi dia untuk menthalaqnya, hal tersebut dikarenakan sesungguhnya nikah dengan tanpa ridho istri adalah tidak sah berdasarkan larangan Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam dari perkara tersebut ketika beliau bersabda : ” Tidak dinikahi seorang perawan sampai dimintai izin”
Dan apabila sang lelaki tidak mempercayai wanita tersebut yang didasari atas apa yang tampak dari keadaan wanita tersebut bahwa dia seorang pendusta maka pernikahan tersebut sah.
dan hal tersebut dikarenakan terkadang istri mengaku tidak dimintai pendapatnya dan sesungguhnya dia telah dimintai pendapat akan tetapi dia membenci sang suami (setelah pernikahan. pent) maka dia membuat pengakuan (dusta) ini .
maka bagaimanapun, apabila sang lelaki memandang bahwa sang wanita adalah gadis yang sholihah dan jujur maka wajib bagi dia untuk membenarkan ucapannya dan menceraikannya dan adapun apabila besar dugaaan dia bahwa sesungguhnya wanita tersebut seorang pendusta maka tidak ada halangan bagi dia untuk mempertahankannya dan semoga saja keadaan berubah (lebih baik . pent.).
Adapun untuk permasalahan mahar, maka mahar telah tetap (untuk istri. Pent) disebabkan berkhalwatnya (berduaan) laki-laki tersebut dengannya. Karena sesungguhnya Khalwat dengan seorang wanita yang telah dinikahi secara akad  telah menjadikan mahar tetap (milik wanita) atas pendapat yang kuat, sama saja apakah dia telah mendatanginya atau tidak. Akan tetapi apabila dia memandang bahwa keluarga wanita telah menipunya kemudian dia mengatakan kepada keluarga wanita : “Aku menginginkan kalian mengganti mahar untukku karena sesungguhnya kalian telah menipuku “. Maka tidak mengapa baginya di dalam keadaan ini, karena sesungguhnya mereka telah menipunya ketika mereka mengesankan seolah-olah sang wanita ridho dalam keadaan dia tidak ridho

Penanya : Keluarga sang istri menginginkan suami ini karena percaya kepadanya dan karena akhlaqnya

Syaikh : Akan tetapi masalah pada sang istri

Penanya : Sang istri berkata bahwa ketika diminta pendapatnya , dia tidak memberikan pendapatnya secara jelas dan dia berkata dalam hati ” aku tidak menginginkannya” dan dia hanya menangis dan tidak jelas dalam menyampaikan pendapatnya.

Syaikh : Tangisan ini yang ditangisinya, apakah keluarga wanita mengetahui (secara yakin) atau besar dugaan mereka bahwa ini disebabkan oleh kebenciannya pada (calon) suami ataukah karena akan berpisah dengan keluarganya ??

Penanya : Saya tidak tahu

Syaikh : Ini sesuatu yang harus diketahui, oleh sebab ini sebagian ulama mengatakan sesungguhnya persetujuan dari perawan adalah diamnya, apabila dia tidak mengatakan :”Aku tidak menginginkannya” maka ini adalah persetujuan . Mereka juga mengatakan ” Bahkan walau menangis” (maka ini adalah persetujuan .Pent)  dan mereka memberikan sebab pendapat ini yaitu dikarenakan bahwa terkadang sang wanita menangis takut dari perpisahan dengan keluarganya bukan karena membenci sang suami.

Penanya : Wanita itu sebelumnya mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak menginginkannya, akan tetapi ketika proses pencatatan akad nikah ketika dia ditanya oleh ibunya, dia hanya menangis dan tidak menunjukkan pendapatnya secara jelas.

Syaikh : Bagaimanapun keadaannya, selama dia mengatakan sejak awal dia tidak menginginkan laki-laki itu maka tangisan ini adalah tangisan benci (tidak suka) maka pernikahan tidak sah, dan wajib bagi laki-laki itu untuk menceraikannya dan boleh bagi dia untuk meminta kepada keluarga sang wanita yang menipunya , mahar yang telah dia berikan kepada mereka.

Penanya : apakah dia mengambil Mahar secara utuh ??

Syaikh : Dia ambil maharnya secara utuh dari keluarga wanita apabila dia telah menunaikannya kepada mereka.

Liqo’ Al-Bab Al- Maftuh 9/37

Hukum Memberi Tanda Adanya Resepsi Pernikahan

Oleh : Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullahu

Soal : Apa hukum menggantungkan pelepah kurma di dinding sebagai tanda bahwa sesungguhnya di dalam (Rumah) terjadi pernikahan ???
Jawab : Aku tidak memandang dalam perkara ini sesuatu yang menghalangi, karena sesungguhnya mereka tidak menginginkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan ini . Sesungguhnya mereka hanya menjadikannya sebagai tanda sebagaimana dinyalakannya lampu-lampu di sebagian tempat dan mengecat rumah dan sekitarnya sebagai tanda bahwa sesungguhnya di dalam (rumah) telah terjadi pernikahan dan semoga saja sampai ke dalam sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam ” Umumkanlah pernikahan”
Liqo’ Al-Babil Maftuh 111/9

Perkara-perkara yang menjadi sebab ikhtilaf (Perbedaan) Ulama dalam masalah Fiqih

Inilah Perkara-perkara yang menjadi sebab  ikhtilaf (Perbedaan) Ulama dalam masalah Fiqih :

Pertama : Tidak sampainya dalil kepada salah satu pihak, termasuk diantaranya adalah sebagian menganggap bahwa dalil dalam perkarat tersebut tidak Tsabit / Shohih. Misalkan tentang hukum membaca Bismillah ketika Wudhu, Ulama berbeda pendapat permasalahan ini dikarenakan sebagian melemahkan hadits-hadits yang datang dalam perkara ini dan ulama yang lain menshohihkannya atau minimal menghasankannya, diantara hadits yang diperselisihkan tersebut adalah : “Tidak sah wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah”

Kedua : Terjadi perbedaan di dalam memahami makna dan sisi pendalillan dari dalil yang ada. Misalkan tentang menjamak sholat bagi muqim (bukan Musafir) ketika Hujan, sebagian ulama berpendapat bolehnya hal tersebut , mereka berdalil dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’ anhuma bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam Menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Bukan disebabkan rasa takut, hujan dan Safar (HR. Muslim)

Maka para ulama tersebut mengatakan bahwa dari hadits ini dipahami bahwa hujan adalah salah satu sebab diperbolehkannya menjamak sholat, adapaun ulama yang lain mengatakan bahwa dalam hadits ini tidak ada sisi pendalilan untuk  hal tersebut

Ketiga : Sebagian menganggap dalil dalam satu permasalahan telah mansukh (terhapus) hukumnya, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya, bahwa hadits Muhkam (Tidak terhapus). Misalkan di dalam permasalahan hukum membunuh peminum Khamr . Para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini, diantaranya karena sebagian menganggap bahwa haditsnya telah mansukh, sebagian menganggap hadits tersebut tidak mansukh.Hadits tersebut adalah hadits dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang minum khamr maka deralah (cambuklah) dia, jika dia mengulangi keempat kalinya maka bunuhlah.” (HR. Tirmidzi)

Keempat : Adanya dalil lain  yang tampak saling bertentangan. Maka sebagian ulama berijtihad dan ulama yang lain berijtihad pula untuk menyikapi dalil-dalil yang tampak saling bertentangan ini. Misalkan dalam permasalahan menghadap atau membelakangi Kiblat ketika sedang buang Hajat. Telah datang hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang yang sedang membuang hajat dengan membelakangi atau menghadap kiblat, yaitu hadits dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu’ anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam WC untuk buang hajat, maka janganlah menghadapke arah kiblat membelakanginya. Hendaklah ia menghadap ke arah timurnya atau baratnya.” (HR. Bukhari – Muslim)

Dan datang hadits lain bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam melakukan hal tersebut , sebagaimana dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu’ anhuma bahwa beliau berkata, “Orang-orang berkata, “Jika kamu menunaikan hajatmu maka janganlah menghadap kiblatatau menghadap ke arah Baitul Maqdis.” ‘Abdullah bin ‘Umar lalu berkata, “Pada suatu hari aku pernah naik atap rumah milik kami, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat menghadap Baitul Maqdis di antara dua dinding. (HR. Bukhari – Muslim)

Maka para ulama berbeda pendapat menyikapi dua hadits ini, sebagian mengatakan berarti hukumnya hanya makruh bukan Haram, sebagian mengatakan bahwa hal tersebut dilarang apabila dilakukan di tempat terbuka, adapun apabila di dalam ruangan atau di balik dinding maka tidak mengapa, sebagian lainnya mengatakan bahwa apabila menghadap kiblat hukumnya haram adapun membelakanginya hanya makruh.

Wallahu A’lam

%d blogger menyukai ini: