Mengenal Ibunda kaum mu'minin (Ummahatul Mu'minin)

Mengenal Ibunda kaum mukminin (Ummahatul Mukminin)

Oleh  : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

mawar

Termasuk dari Aqidah yang benar pada seorang mukmin adalah mencintai dan menghormati para Ibunda kaum mu’minin (Ummahatul Mu’minin) yaitu para istri-istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Dan tentunya sesuatu akan lebih dicintai apabila telah dikenal dengan dekat .Oleh sebab itu berikut adalah nama-nama para Ummahatul Mukminin, mudah-mudahan dapat membuat kecintaan dan penghormatan kepada mereka semakin bertambah :

  1. Khodijah bintu Khuwailid Radhiyallahu anha’, Dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam di Mekkah  saat usia Khadijah 40 tahun dan pada saat itu Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam belum diutus menjadi Rasul. Beliau adalah ibu dari seluruh putra-putri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam kecuali Ibrohim yang beliau peroleh dari Maria Al-Qibtiyah. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam merupakan suami ketiga bagi Khadijah, sebelumnya beliau pernah menikah dengan Atiq bin Abid dan Halath At-Tamimi. Selama pernikahan dengan Khadijah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tidak pernah menikah dengan wanita lain. Khadijah wafat 3 tahun sebelum peristiwa Hijrah.
  2. Saudah Bintu Zam’ah Radhiyallahu anha’, beliau dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam di Mekkah setelah wafatnya Khadijah. Sebelum menikah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beliau pernah menikah dengan Sukron bin amr’ (seorang muslim). Beliau meninggal pada akhir khalifah Umar sebagian mengatakan pada tahun 54 Hijriyah.
  3. Ummu Abdillah Aisyah Bintu Abi Bakar Radhiyallahu anhuma’.  Beliau dua kali diperlihatkan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dalam mimpi dan dikatakan “Ini adalah istrimu” (HR.Bukhori-Muslim. Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma). Dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam di Mekkah pada saat berumur 6 tahun dan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam berkumpul dengan Aisyah di Madinah pada saat Aisyah berumur 9 tahun. Aisyah wafat pada tahun 58 H
  4. Hafshah bintu Umar bin Khattab Radhiyallahu anhuma ,Beliau dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam setelah suaminya Khunais Bin Khudzafah gugur pada perang Uhud. Hafshah wafat pada tahun 41 H.
  5. Zainab Bintu Khuzaimah Radhiyallahu anha’. Dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam setelah suami beliau Abdullah bin Jahsyi gugur pada perang Uhud. Beliau tidak sempat lama merasakan berumah tangga bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, beliau wafat di saat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam masih hidup. Beliau bergelar ” Ummul Masakin” (Ibunda orang-orang miskin)
  6. Ummu Salamah Hindun Bintu Abi Umayyah Radhiyallahu anha’. Sebelum menikah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beliau pernah menikah dengan Abdullah bin Abdul Asad yang gugur di perang Uhud. Beliau wafat pada tahun 61 H.
  7. Zainab Bintu Jahsyi Radhiyallahu anha’. Beliau adalah sepupu Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Beliau dinikahkan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam oleh Allah dari atas langit ketujuh dengan turunnya surat Al-Ahzab ayat 37 pada tahun 5 H. Beliau dinikahkan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam setelah diceraikan oleh Zayd bin Haritsah yang merupakan anak angkat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
  8. Juwairiyah Bintu Harits Radhiyallahu anha’, sebelum Dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beliau pernah menikah dengan Masafi’ bin Sofwan, sebagian mengatakan Malik bin Sofwan. Beliau dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pada tahun 6 H dan beliau meninggal pada tahun 56 H.
  9. Ummu Habibah Romlah Bintu Abi Sufyan Radhiyallahu anha’, sebagian mengatakan nama beliau adalah Hindun bukan Romlah. Sebelum menikah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beliau pernah menikah dengan Ubaidullah bin Jahsyi. Ummu Habibah wafat di Madinah pada tahun 44 H pada masa khalifah Muawiyyah bin Abi Sufyan yang merupakan saudara laki-laki beliau.
  10. Sofiyah Bintu Huyay Radhiyallahu anha’, Dinikahi oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pada tahun 6 H setelah kemenangan Khaibar .Sebelumnya beliau pernah menikah dengan Kuhanan bin abil Haqiq dan Salam bin Masykam. Beliau wafat pada tahun 50 H.
  11. Maimunah Bintu Harits Radhiyallahu anha’, dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pada tahun 7 H pada saat Umrah Qodho. Sebelumnya beliau telah menikah dengan Ibnu Abdi Yalil dan Abu Rohm’ bin Abdil Uzza. Beliau meninggal pada tahun 51 H.

Selain dari 11 orang ini  ada Maria Al-Qibtiyah.  Beliau dihadiahkan oleh penguasa Iskandariyah kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Dari Maria Al-Qibtiyah beliau memperoleh seorang anak lak-laki yang bernama Ibrohim. Dan Maria Al-Qibtiyah tidaklah termasuk dari kalangan Ummahatul Mukminin atas pendapat yang kuat , akan tetapi beliau tetap kita muliakan dikarenakan kedudukannya sebagai ibu dari anak Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan juga seorang sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Beliau wafat pada tahun 16 H.

Kesimpulan-Kesimpulan :

  • Seluruh istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dinikahi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dalam keadaan sudah pernah menikah (Janda) kecuali Aisyah Radhiyallahu anha’.
  • Seluruh Istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam wafat setelah beliau wafat kecuali dua orang, Khodijah dan Zainab bintu Khuzaimah Radhiyallahu anhuma.
  • Istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang paling pertama wafat adalah Khodijah dan yang terakhir wafat sebagian mengatakan Ummu Salamah dan sebagian mengatakan Sofiyah Radhiyallahu ‘anhuna.
  • Istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang paling utama adalah Khodijah dan Aisyah. Khodijah dengan keutamaannya sebagai istri yang pertama dan segala pertolonganya di awal-awal diutusnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sebagai Rasul dan Aisyah dengan keutamaanya dengan ilmu yang beliau miliki serta keutamaan dibersihkannya nama beliau dari segala tuduhan keji kaum munafik dengan diturunkannya surat An-Nur.
  • Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memiliki anak hanya dari Khodijah dan budak beliau Maria Al-Qibtiyah.

Sumber :

  • Zaadul Ma’ad , Ibnul Qoyyim
  • Syarh Lum’atul I’tiqod, Syaikh Ibnu Utsaimin
  • Al-Ishobah, Ibnu Hajar
%d blogger menyukai ini: