Mengenal sifat-sifat Kaum Munafik

Mengenal sifat-sifat Kaum Munafik

Oleh : Ibnu Dzulkifli As-amarindy

sdsad“Dasar Munafik !!!” Kalimat yang tidak asing lagi di telinga kita. Dan tahukah anda bahwa Munafik itu ada yang kafir dan ada yang tidak, pahamilah sedikit catatan ringkas ini agar anda tidak terjatuh dalam kesalahan ketika mengeluarkan sesuatu dari lisan walaupun anda tidak berniat melakukannya. Munafik ada 2 jenis : اعتقادي (keyakinan) dan عملي (amalan)

JENIS MUNAFIK YANG PERTAMA : MUNAFIQ KEYAKINAN

Disebut juga Nifaq Akbar (Munafik besar) yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama atau kafir . Pelakunya adalah penghuni neraka yang paling dasar, sebagaimana firman Allah ta’ala :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisa’ : 145-146)

Munafiq  keyakinan (اعتقادي) memiliki 6 bentuk perbuatan yaitu :

Pertama : Mendustakan Rasulullah shalallahu alaihi wassallam

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Artinya : “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munaafiquun : 1 )

Kedua : Mendustakan sebagian dari perkara-perkara yang Rasulullah shalallahu alaihi wassallam datang dengannya

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

وَيَقُولُونَ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

Artinya  : “Dan mereka berkata: “Kami Telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (QS. Nuur : 47)

Ketiga : Membenci Rasulullah shalallahu alaihi wassallam

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui.” ( QS. Al-Munaafiquun : 8 )

Keempat : Membenci sebagian dari perkara-perkara yang Rasulullah shalallahu alaihi wassallam datang dengannya

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Artinya : “Dan tidak ada yang menghalangi nafkah-nafkah mereka untuk diterima melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan tidaklah mereka  mengerjakan sembahyang, melainkan dengan rasa malas dan tidak (pula) mereka menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At Taubah : 54)

Kelima : Merasa gembira dengan kekalahan agama Rasulullah shalallahu alaihi wassallam

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Artinya : ” Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (Tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (QS. At-Taubah : 50)

Keenam : Merasa benci dengan ditolongnya (kemenangan) agama Rasulullah shalallahu alaihi wassallam

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Artinya : “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Ali Imran:120)

Dan jenis Nifaq Akbar (besar) ini sangatlah berbahaya bagi Islam dan kaum muslimin dikarenakan tersamarnya keadaan mereka dan apa-apa yang mereka sembunyikan di dalam hati-hati mereka. Bagaimana tidak, mereka tampil di golongan kaum muslimin dengan wajah-wajah seorang tokoh pemikir, cendekiawan bahkan seorang da’i yang seolah-olah menyeru kepada jalan Allah. Dalam keadaan tidak ada yang mereka inginkan kecuali kehancuran Islam dan kekalahan kaum muslimin.

Dan ini tercermin dalam awal surat Al-Baqarah, ketika Allah menjelaskan tentang tiga golongan yang ada di dunia : Kaum Muslimin, Kaum Kafir dan Kaum Munafik. Allah Menjelaskan tentang kaum muslimin dalam empat ayat dan kaum kafir dengan dua ayat saja. Akan tetapi ketika menjelaskan tentang kaum munafik, Allah menjelaskannya dalam tiga belas ayat, dikarenakan besarnya fitnah yang mereka timbulkan dan kedudukannya mereka yang tersamarkan di hadapan kaum muslimin.

JENIS MUNAFIK YANG KEDUA : MUNAFIK  AMALAN

Disebut juga Nifaq Ashgor , yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama.

Berkata Syaikhul Islam tentang Nifaq Ashgor (Nifaq amali) :”Yaitu menampakkan ketaatan dan menyembunyikan (dalam hati) kemaksiatan ” (Majmu’ Fatwa, Nukilan)

Bentuk Munafik Amalan sangat banyak , dan yang paling banyak terjatuh manusia di dalamnya ada 5 bentuk: Apabila berkata dia berdusta, apabila berjanji dia ingkar, apabila dipercaya dia berkhianat, apabila berdebat dia berlebihan dan apabila terikat perjanjian dia menyelisihi.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassallam :

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان

Artinya : “Tanda-tanda Munafik ada 3, apabila dia berkata dia berdusta, apabila dia berjanji dia ingkar dan apabila dipercaya dia berkhianat” (HR. Bukhari (33,2682,27849,6095) Muslim(59) Ahmad (9169) dari Abu Hurairoh Radiyallahu ‘anhu)

Dan dalam riwayat lain :

إذا خاصم فجر وإذا عاهد غدر

Artinya : “Apabila berdebat dia berlebihan dan apabila terikat perjanjian dia menyelisihi” (HR. Bukhari (34,2459,3178) Muslim(68) Ahmad (6782) Abu Dawud (4688) tirmidzi (2632) dari Abdullah bin Umar Radiyallahu ‘anhuma)

Dan dalam hadits lain :

Rasulullah shalallahu alaihi wassallam bersabda : ” Empat perkara yang apabila terdapat (seluruhnya) pada seseorang maka dia adalah seorang Munafik asli, dan barangsiapa yang terdapat padanya bagian dari empat perkara tersebut maka terdapat pada dirinya bagian dari kemunafikkan sampai dia meninggalkannya . Apabila dipercaya dia berkhianat ,  apabila dia berkata dia berdusta, apabila terikat perjanjian dia ingkar  dan apabila berdebat dia berlebihan.” (HR. Mutafaqqun Alaih)

Perbedaan-perbedaan antara Nifaq Akbar (Besar) dan Nifaq Ashgor (Kecil) :

  1. Nifaq Akbar (Besar) menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam dan Nifaq Ashgor (Kecil) tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam
  2. Nifaq Akbar (Besar) tidak mungkin sifat-sifat tersebut ada pada seorang mu’min dan Nifaq Ashgor (Kecil) terkadang menimpa seorang mu’min
  3. Nifaq Akbar (Besar) pada keumumannya pelakunya tidak bertaubat dari perbuatannya, seandainya pun bertaubat telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang diterima atau tidak taubatnya di hadapan hakim. Adapun Nifaq Ashgor (Kecil) para pelakunya kebanyakkan bertaubat dari perbuatannya.
  4. Nifaq Akbar (Besar) yaitu berbeda antara yang ditampakkan dan yang disembunyikan dalam perkara I’tiqod (keyakinan) adapun Nifaq Ashgor (Kecil) berbeda antara yang ditampakkan dan yang disembunyikan dalam perkara amalan bukan dalam perkara I’tiqod (keyakinan).

Wallahu A’lam

Sumber :

Al-Wajibat , Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi An-Najdi

Aqidattut tauhid,  Syaikh Sholih Al-Fauzan

Sumber-sumber lainnya

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: