Catatan ringan tentang ilmu Hadits

Hadits berdasarkan Konsekuensi diterima atau tidak dan bisa dijadikan Hujjah atau tidak terbagi dua jenis :

1)     Hadits Maqbul (Diterima) dan bisa dijadikan Hujjah : terdiri dari Hadits Shahih dan Hadits Hasan[1].

2) Hadits Mardud (Ditolak): yaitu Hadits Lemah dan tidak bisa dijadikan Hujah atau dalil atas pendapat yang Shahih. Jenis hadits lemah ini sangat banyak,  disebutkan oleh Ibnu Sholah menukil Abu Hatim Ibnu Hibban bahwa jenis Hadits lemah mencapai 49 jenis , dan diantara jenis hadits lemah : Mauquf, Mursal, Mudallas, Maqthu, Munqathi’, Mu’dhal, Mutharib, Maqlub, Mudraj, Mu’alal, Maudhu’ (Palsu), Matruk, Syadz, Ma’ruf, Munkar

Sebagian Istilah-istilah Ilmu Hadits

Hadits Shahih

Hadits yang diriwayatkan dari perawi adil dan dhabit dari yang semisalnya (Adil dan Dhabit) bersambung sanadnya bukan Muallal (terdapat penyakit hadits) juga tidak Syaadz

Hadits Hasan

Hadits Hasan adalah hadits yang memenuhi syarat hadits Shahih akan tetapi derajat dhobit perawinya sedikit lebih rendah dari dhobit rawi hadits-hadits shahih.

Hadits  Dho’if (Lemah)

Hadits Dha’if ialah hadits yang tidak memenuhi sifat-sifat dan syarat-syarat Hadits Shahih dan tidak juga Hadits Hasan.

Hadits   Maudhu’  (Palsu)

Hadits dusta atas Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam , pada sanadnya terdapat seorang rawi atau lebih yang dikenal sebagai pendusta atau dikenal sebagai pembuat ucapan-ucapan dan diatasnamakan sebagai hadits Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam .

Hadits Munkar (Mungkar)

Seorang perawi yang lemah bersendirian dalam meriwayatkan hadits, ini adalah pendapat Imam Ahmad dan An-Nasa’i, sedangkan mayoritas Ahli Hadits mengartikannya sebagai Hadits yang pada sanadnya ditemukan perawi lemah yang menyelisihi perawi yang terpercaya (tsiqoh)[2]

Hadits Marfu

Hadits yang disandarkan kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam , baik berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan, Hadits Marfu bisa jadi bersambung sanadnya bisa jadi terputus sanadnya.

Mauquf

Hadits yang disandarkan kepada seorang sahabat baik bersambung sanadnya atau terputus, baik yang berupa baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan . Misal, “Ibnu Umar berkata …….. “atau seperti “Ibnu ‘Umar mengangkat tangannya dalam takbir-takbir sholat Jenazah”.

Hadits Mursal

Seorang Tabi’in menyandarkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam , baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan dengan tidak menyebutkan perawi yang menghubungkan antara tabi’in tersebut dan Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam

Sanad atau Isnad

Sanad atau isnad yaitu silsilah mata rantai (urutan bersambung) para perawi yang menghubungkan kepada suatu matan.

Matan

Matan adalah ucapan atau kalimat yang berhenti padanya sebuah sanad.

Rawi atau Perawi

Orang-orang yang meriwayatkan hadits yang terdapat dalam sanad Hadits.

CONTOH

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam Shahih Bukhori :

حدثنا عبد الله بن محمد قال: حدثنا أبو عامر العقدي قال: حدثنا سليمان بن بلال، عن عبد الله بن دينار، عن أبي صالح، عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:(الإيمان بضع وستون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان).

(Berkata Imam Bukhori) : Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad, dia berkata : telah mengabarkan kepada kami Abu Amir Al-Aqdi, beliau berkata : telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Sholih dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam bahwa Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda  :, ” Iman itu memiliki enam puluh lebih cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”

Hadits ini yang meriwayatkan adalah : Imam Bukhori dalam kitab beliau Shahih Bukhori

Sahabat yang meriwayatkan : Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu

Sanad atau Isnad : Ucapan Imam Bukhori : “telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad” hingga ucapan Abu Hurairah : ” dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam

Perawi : Abdullah bin Muhammad, Abu Amir Al-Aqdi, Sulaiman bin Bilal,  Abdullah bin Dinar , Abu Sholih dan Abu Hurairah

Matan Hadits : Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda  :” Iman itu memiliki enam puluh lebih cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”

Tabi’in dalam hadits ini (Yang meriwayatkan dari sahabat) : Abu Sholih Rahimahullah.


[1] Sebagian ulama mengatakan hadits Jayyid derajatnya berada antara hadits hasan dan hadits Shohih.

[2] Syarah Baitsul Hatsis, Al-Allamah Muqbil bin Hady Al-Wadi’i Hal.. 132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: