Tata cara Sholat Ied

SHOLAT IED

Sholat Ied wajib atas setiap Muslim laki-laki merdeka (bukan budak). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, satu riwayat dari Ahmad dan yang tampak dari ucapan imam As-Syafi’i. Dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Qoyyim , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As-Sayukani, Shidiq Hasan Khan, As-Sa’di dan Ibnu Utsaimin Rahimahumullah . Berdasarkan hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha :

أمرنا أن نخرج الحيض يوم العيدين وذوات الخدور فيشهدان جماعة المسلمين ودعوتهم ويعتزل الحيض عن مصلاهن قالت امرأة يا رسول الله إحدانا ليس لها جلباب ؟ قال ( لتلبسها صاحبتها من جلبابها )

Artinya : “Kami diperintah untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan Jama’ah dan dakwah kaum muslimin dan wanita yang haid diperintah untuk menjauhi tempat sholat wanita. Maka berkata seorang wanita : Wahai Rasulullah , salah seorang dari kami tidak memiliki Jilbab” maka beliau berkata :”:Hendaklah sahabatnya memakaikan padanya dari jilbab yang dia miliki” (HR. Bukhori No. 334 dan Muslim No. 890)

Berkata Imam As-Syafi’i : “Barangsiapa yang wajib atasnya menghadiri sholat Jum’at maka wajib atasnya menghadiri sholat dua hari raya”

Dan salah dalil yang menguatkan pendapat ini adalah ketika hari ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi yang sudah melakukan sholat ied tidak wajib baginya melakukan sholat Jum’at. Dalam keadaan bahwa Sholat Jum’at hukumnya Wajib, dan tidaklah menghilangkan sesuatu yang wajib kecuali dengan yang wajib pula.

Adapun hukum keluarnya wanita ke tanah lapang adalah Sunnah Mustahabah, tidak ada bedanya apakah wanita muda atau lanjut usia. Ini adalah pendapat Alqamah, Ishaq, Ahmad dalam satu riwayat, Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab.Dan boleh bagi wanita untuk sholat ied di rumahnya. Ini adalah pendapat Ibnu Rajab dan Malik.

Disunnahkan melaksanakan sholat ied di tanah lapang sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukannya di tanah lapang, Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Kecuali apabila ada udzur seperti hujan . Hal ini berlaku pula bagi penduduk Madinah dan Masjidil Aqsha, karena Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam selama di madinah tidak pernah melakukannya di mesjid beliau bahkan beliau melakukannya di tanah lapang. Sebagaimana dalam hadits Ummu Atiyah yang telah lewat . Dan dikecualikan oleh Ulama adalah penduduk Makkah, maka mereka tetap melaksanakannya di Masjidil Haram.

Dan bagi para wanita yang sedang haid atau nifas maka ditempatkan terpisah dari jama’ah kaum muslimin sebagaimana dalam hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha .

CARA PELAKSANAAN SHOLAT IED:

Waktu sholat ied adalah sejak naiknya matahari dan telah hilang waktu yang dibenci untuk sholat . Ini adalah pendapat Ahmad. Dan berakhir waktunya ketika matahari tergelincir.

Tidak ada adzan dan tidak pula iqomah dalam sholat ied, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdulllah Radhiyallahu’ anhum, berkata atha’ Rahimahullah :

أخبرني جابر بن عبدالله الأنصاري أن لا أذان للصلاة يوم الفطر حين يخرج الإمام ولا بعد ما يخرج ولا إقامة ولا نداء ولا شيء لا نداء يومئذ ولا إقامة

Artinya : “Telah mengabarkan kepadaku  Jabir Bin Abdillah bahwa tidak ada adzan pada hari ied ketika Imam keluar (untuk sholat). Dan tidak pula setelah imam keluar, tidak ada Iqomah , tidak pula adzan dan tidak ada sesuatu apa pun. Tidak adzan sa’at itu dan tidak pula iqomah” (HR. Muslim No. 886)

Bahkan Ibnu Rajab menukil Ijma’ ulama bahwa adzan dan Iqomah pada sholat ied adalah Bid’ah.

Sholat Ied terdiri dari dua raka’at dan tidak ada sholat sunnah sebelum dan sesudahnya. Dinukil Ijma’ dalam permasalahan ini oleh An-nawawi.   Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’ anhuma :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلآ بَعْدَهَا

Artinya : “ Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam sholat ied dua rakaat, tidak sholat (sunnah) sebelum dan sesudahnya “ (HR. Bukhori No. 964 dan Muslim No. 884)

Raka’at pertama terdiri dari 7 takbir sebelum membaca Al-Fatihah dan Raka’at kedua terdiri dari 5 kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah . Ini adalah pendapat Mayoritas Sahabat dan tabi’in.

Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يكبر في الفطر والأضحى في الأولى سبع تكبيرات وفي الثانية خمسا .

Artinya : “ Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bertakbir pada hari iedul fitri dan iedul adha pada raka’at pertama tujuh kali takbir dan pada raka’at kedua lima kali takbir” takbir (HR. Abu Dawud No. 1149 Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwaul Ghalil 3/106-112)

Dan 7 takbir pada raka’at pertama termasuk takhbiratul ihram . Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan Shohih dari Ibnu Abbas (Dalam Mushanaf , Ibnu Abi Syaibah 2/173)

Dan hukum takbir-takbir  ini selain takhbirathul ikhram adalah sunnah. Dinukil Ijma’ dalam permasalahan ini oleh Ibnu Qudamah. Sehingga apabila takbir-takbir ini ditinggalkan sholat ied tidak menjadi batal , baik ditinggalkan secara sengaja ataupun tidak.

Setelah membaca Al-Fatihah disunnahkan membaca surat Qaaf dan Al-Qamar Sebagaimana dalam hadits Umar Radhiyallahu’ anhu :

كان يقرأ فيهما بق والقرآن المجيد واقتربت الساعة وانشق القمر

Artinya : “ Rasulullah membaca pada dua raka’at (ied) dengan Surat Qaaf dan surat surat Al-Qamar (HR. Muslim No. 891)

Tidak disunnahkan mengangkat tangan ketika bertakbir pada 7 takbir pada raka’at pertama kecuali pada takbir yang pertama yaitu takhbiratul ikhram dan tidak pula mengangkat tangan pada 5 takbir pada raka’at kedua . Ini adalah pendapat Malik, At-Tsauri dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Muqbil bin Hady. Karena tidak ada dalil yang shohih Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukannya.

Takbir-tabir dalam sholat dilaksanakan secara bersambung dengan tenggang waktu yang sebentar dan tidak membaca dzikir apapun diantara takbir-takbir tersebut , karena tidak adanya dalil yang shohih atas perbuatan tersebut. Ini adalah pendapat Malik, Al-Auzai, Abu Hanifah, Ibnul Qoyyim dan Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’i Rahimahumullah.

Doa Istiftah dibaca setelah takhbiratul Ikhram sebelum bertakbir takbir-takbir Sunnah. Ini adalah pendapat As-Syafi’i, Ahmad dalam satu riwayat dan Ibnu Qudamah.

Dan khutbah ied dilaksanakan setelah sholat, Dinukil Ijma’ dalam permasalahan ini oleh Ibnu Abdil Baar. Dan dalilnya adalah hadits ibnu Abbas Radhiyallahu’ anhuma :

قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya : “ Aku telah menyakskan (sholat ) ied bersama Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka seluruhnya melakukan sholat sebelum Khutbah” (HR. Bukhori No. 962 dan Muslim No. 884)

Dan khutbah Ied dilaksanakan satu kali saja bukan dua kali sebagaimana khutbah sholat Jum’at. Ini adalah pendapat Syaikh Muqbil bin Hady dan Ibnu Utsaimin. Berdasarkan Hadits yang baru lewat, di dalamnya terdapat lafadz “Sebelum Khutbah” dan tidak disebutkan “Dua khutbah”. Dan tidak pernah dinukil bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukan khutbah ied kemudian duduk kemudian bangkit lagi untuk khutbah kedua sebagaimana dalam sholat Jum’at.

Apabila hari ied jatuh pada hari Jum’at , maka bagi yang sudah melaksanakan sholat ied tidak wajib baginya melaksanakan sholat Jum’at, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu , Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون

Artinya : “Sungguh telah bertemu pada hari kalian ini dua hari raya, maka barangsiapa yang berkeinginan maka telah cukup baginya dari sholat Jum’at dan sesungguhnya kami akan melaksanakannya (sholat Jum’at)” (HR. Abu Dawud No. 1073 Dishohihkan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Shohih Sunan Abi Dawud)

Apabila seseorang luput atau tertinggal sholat ied maka baginya untuk melakukan sholat 2 rakaat sebagaimana yang dilakukan imam dengan tujuh kali takbir pada raka’at pertama dan lima kali takbir pada raka’at kedua dengan mengeraskan bacaan. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama, diantaranya :Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Ikrimah, Malik, Al-Laits, As-Syafi’, Ibnul Mundzir, Ahmad dalam satu riwayat, Al-Auzai, Atha’  dan Bukhori.

Bagi yang mempunyai udzur dan tidak berangkat ke tanah lapang maka hendaknya sholat di rumah sebagaimana sholatnya Imam, yakni 2 rakaat dengan tujuh kali takbir pada raka’at pertama dan lima kali takbir pada raka’at kedua dengan mengeraskan bacaan. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: