Adakah Nabi atau Rasul dari kalangan Wanita ??

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang tidak adanya seorang Rasul dari kalangan para wanita. Adapun tentang masalah apakah ada nabi dari kalangan para wanita, maka sebagian ulama berpendapat dengan adanya nabi dari kalangan para wanita diantara mereka adalah Abul Hasan As-Asy’ari, Al-Qurthubi dan Ibnu Hazm Rahimahumullah. Akan tetapi pendapat ini lemah dan telah dilemahkan oleh ulama lainnya.

Salah satu dalil tentang tidak adanya rasul maupun nabi dari kalangan para wanita adalah firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ اتَّقَواْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Artinya : Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (QS Yusuf : 109)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ اتَّقَواْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Apakah seorang Nabi adalah Rasul ??

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang nabi dan rasul, sebagian berpendapat bahwa setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Akan tetapi Al-Imam As-Syinqithy dalam Adhwaul bayan 5/735 berpendapat bahwa sebaliknya , yaitu setiap nabi adalah rasul dan setiap rasul adalah nabi, dan beliau berdalil dengan firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya : Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS-Al-Hajj : 52)

!$tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB y7Î=ö6s% `ÏB 5Aqߙ§‘ Ÿwur @cÓÉ<tR HwÎ) #sŒÎ) #Ó©_yJs? ’s+ø9r& ß`»sÜø‹¤±9$# þ’Îû ¾ÏmÏG¨ÏZøBé& ã‡|¡Yu‹sù ª!$# $tB ’Å+ù=ムß`»sÜø‹¤±9$# ¢OèO ãNÅ6øtä† ª!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uä 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ3ym ÇÎËÈ

Adakah ulama yang Membolehkan Oral Seks ?

Telah datang pertanyaan dari seorang sahabat kami tentang ulama yang memperbolehkan melakukan oral seks ?? Beliau ragu ketika kami kabarkan, bahwa ada ulama ahlusunnah yang berpendapat bolehnya melakukan hal tersebut. Maka berikut catatan ringkas kami :

Salah satu ulama tersebut adalah Syaikh Abdullah Bin Baaz Rahimahullah ketika beliau memberikan catatan kaki (Ta’liq) terhadap Kitab Ar-Raudhul Murbi’ Syarah zaadil Mustaqnie pada  bab Haid ketika membahas larangan mendatangi istri pada Farji ketika Haid. Beliau memberikan ta’liq (secara makna) :

“Dia (suami) istimta’ (bernikmat-nikmat) dari istrinya dengan sesuatu yang lain (selain Farjinya) dengan tangan (istrinya) dan Mulutnya……” hingga ucapan beliau … “hingga keluar mani dan tidak boleh baginya mendatanginya pada farjinya”

(Ta’liq Ibnu Baaz Rahimahullah pada kitab Ar-Raudhul Murbi’ Syarah zaadil Mustaqnie pada  bab Haid Jilid 1 Hal 174. Catatan kaki No. 1. Cetakan Darul Atsar Mesir , Cetakan pertama Tahun 2006 M)

Ada banyak ulama-ulama lainnya selain beliau yang berpendapat tentang bolehnya melakukan oral seks, baik dari kalangan ulama terdahulu maupun masa kini. (Insya Allah pada catatan – catatan berikutnya)

Akan tetapi pendapat yang shohih adalah tidak bolehnya hal tersebut, silahkan baca artikel dan fatwa Ulama tentang permasalahan tersebut disini . Wallahu a’lam

Apabila Rasulullah meninggalkan sesuatu yang diperintahkannya

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Apabila Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memerintahkan suatu perkara dan kemudian beliau mengerjakan yang menyelisihinya maka menunjukkan perintah  tersebut tidak wajib “ (As-Syarhul Mumti’ 1/305)

Penjelasan

Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah mencontohkan bahwa perintah berwudhu dari sesuatu yang disentuh api (dimasak) hukumnya tidak wajib, karena shohih dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam dalam hadits Jabir Rhadiyallahu ‘anhu bahwa beliau pada akhir umurnya meninggalkan berwudhu dari memakan sesuatu yang disentuh api (dimasak)

Beliau sendiri tidak berpendapat bahwa hadits Jabir Rhadiyallahu ‘anhu adalah penghapus hadits-hadits tentang wajibnya berwudhu dari sesuatu yang disentuh api (dimasak) beliau memilih dengan menggabung dalil-dall yang ada

Mengembalikan Kepada Adat dan kebiasaan Manusia

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Apabila datang dalil syar’i tentang sesuatu dan tidak datang syariat menjelaskan batasannya maka batasannya kembali kepada adat dan kebiasaan manusia.” (As-Syarhul Mumti’ 1/272)

Penjelasan :

Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah menjelaskan pula bahwa yang teranggap adalah adat dan kebiasaan pertengahan manusia, bukan berdasarkan pandangan setiap orang.

Misal penerapan kaidah ini adalah  telah disebutkan dalam syariat keringanan bagi orang yang safar untuk mengqashar (meringkas) sholatnya dalam keadaan tidak datang penyebutan dalam syariat tentang batasan jarak atau waktu sebuah perjalanan bisa dikatakan sebagai sebuah safar. Sehingga dengan kaidah ini maka dikembalikan kepada pandangan manusia yang adil dan pertengahan, apabila sebuah perjalanan dari satu daerah ke daerah tertentu telah mereka anggap sebagai sebuah safar maka berlakulah hukum-hukum safar. Wallahu A’lam

3 Jenis Penafian

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Penafian dalam Syariat ada 3 jenis tingkatan, Pertama untuk menafikan wujud kemudian penafian sahnya dan yang ketiga untuk menafikan kesempurnaan” (As-Syarhul Mumti’ 1/158)

Penjelasan :

Apabila datang dari Al-Quran dan As-sunnah tentang penafian sesuatu maka pada asalnya penafian tersebut adalah penafian wujudnya, apabila wujudnya ternyata ada maka penafian itu adalah untuk menafikan sahnya, walaupun bisa dikatakan juga jenis penafian ini adalah penafian wujud secara syar’i dan yang ketiga apabila yang dinafikan tersebut wujudnya ada dan tetap sah,maka penafian tersebut adalah untuk menafikan kesempurnaan.

Misal penafian wujud adalah penafian dalam syariat “ Tidak ada pencipta selain Allah” . Ini adalah penafian wujud, karena memang tidak ada wujud pencipta lain selain Allah ta’ala

Misal untuk penafian sah adalah : “Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah” Maka dalam penafian ini, yang dinafikan adalah penafian sahnya sholat orang yang tidak membaca Al-Fatihah karena seseorang yang sholat dan tidak membaca Al-Fatehah, wujud sholatnya tetap ada akan tetapi teranggap tidak sah sholatnya.

Misal dari penafian kesempurnaan adalah :  “Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga dia menyintai untuk saudaranya apa-apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” Penafian ini menunjukkan penafian kesempurnaan iman, karena tidak terdapat padanya dua penafian yang terdahulu. Yakni maknanya bukanlah penafian wujud dan bukanlah penafian sahnya. Wallahu a’lam

Keraguan yang terjadi setelah selesainya ibadah tidak teranggap

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Keraguan yang terjadi setelah selesainya ibadah tidak teranggap ” (As-Syarhul Mumti’ 1/206)

Penjelasan :
Misalkan sesorang setelah selesai dari sholat dhuhur merasa ragu, apakah ketika tadi sholat dia berniat dengan niat sholat dhuhur ataukah dengan niat  sholat ashar, maka keraguan yang seperti ini tidak teranggap. Selama dia telah melakukan sholat dhuhur maka yang teranggap adalah dia telah melakukannya dan tidak perlu menoleh kepada keraguannya. Berbeda halnya ketika selesai sholat dhuhur dia yakin bahwa dia telah salah dalam berniat dengan berniat sholat ashar, maka ini dibangun diatas keyakinan bukan keraguan. Sehingga ada hukum lain yang dibangun diatasnya.

Tidak setiap yang haram itu najis

Termasuk dari Dhawabitul Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

– Setiap yang halal pasti suci (tidak Najis)

– Setiap yang Najis pasti haram

– Tidak setiap yang haram pasti najis

– Tidak dilazimkan bahwa sesuatu yang suci pasti halal

(As-Syarhul Mumti’ 1/94-95)

Penjelasan :

Contoh setiap yang halal pasti suci adalah bangkai ikan, Allah telah menghalalkan bangkai ikan maka dengan kaidah yang dibawakan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah ini menunjukkan bahwa bangkai ikan adalah suci, karena tidak mungkin Allah menghalalkan untuk memakan sesuatu yang najis.

Contoh Setiap yang najis pasti haram misalnya adalah kencing manusia , kencing manusia najis berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ maka dengan kaidah ini maka diharamkan meminumya.

Contoh tidak setiap yang haram pasti najis adalah Khamr, Khamr haram untuk diminum tetapi tidak melazimkan bahwa khamr najis (Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah berpendapat bahwa khamr tidak najis). Sehingga dibutuhkan dalil lain untuk menunjukkan najisnya sesuatu , tidak cukup dengan dalil bahwa benda tersebut  haram.

Contoh tidak dilazimkan bahwa sesuatu yang suci (bukan najis) pasti halal adalah adalah hewan kucing, kucing tidaklah najis akan tetapi tidak halal memakannya.

Menjelajah Mesjid-Mesjid Dunia dengan 3D

Software ini adalah software yang menarik dan unik, anda tinggal mengunduhnya dari sini, apabila telah selesai, maka cukup klik 2 kali pada hasil unduhan tersebut,maka anda akan berpindah ke mesjid-mesjid yang berada di luar negeri sana. Seakan-akan anda benar-benar berada di tempat tersebut, dengan menggerakkan mouse anda maka arah pandangan anda pun di tempat tersebut akan mengikuti gerakan mouse tersebut.  Benar-benar seperti realita, sayangnya belum diiringi dengan suara.

Ada beberapa koleksi mesjid yang telah tersedia, mulai Mekkah, Madinah, Sana’a, Istambul Sampai ke negeri Belanda.

Selamat menjelajahi mesjid-mesjid dunia…

Contoh Screen Shoots dari software mesjid 3 Dimensi :

Mesjidil Haram

Mesjid Nabawi

Jami’ Ash-Sholih, Sana’a Yaman

software islam,download software islam,islamic software,free islamic software,download software islam gratis,software hadits,download terjemahan al-qur’an,download program islam,download software al-qur’an,download murottal al-qur’an,download murottal lengkap,herbal samarinda,agen herbal samarinda,kios herbal samarinda,beli herbal di samarinda

Ushul Fiqih dan Qowaidul Fiqih

PENGERTIAN USHUL FIQIH DAN QOWAIDHUL FIQIH

Ilmu Ushul Fiqih adalah “Ilmu  yang membahas  dalil-dalil  fiqih  yang  umum  dan  bagaimana cara mengambil faidah dari dalil-dalil tersebut serta kondisi orang yang mengambil faidah”

Yang dimaksud pembahasan “dalil-dalil Fiqih yang umum” semisal : “perintah  menunjukkan  hukum wajib”, “larangan  menunjukkan  hukum  haram”, “sah-nya  suatu  amal menunjukkan amal tersebut telah terlaksana”

Yang dimaksud dengan “bagaimana cara mengambil faidah dari dalil-dalil tersebut” yaitu mengetahui  bagaimana mengambil  faidah  hukum  dari dalil-dalilnya dengan mempelajari hukum-hukum  lafadz dan penunjukkannya seperti seperti  lafadz-lafadz umum,  khusus, muthlaq, muqoyyad, dalil yang nasikh (menghapus) , Dalil-dalil yang mansukh (terhapus) , dan  lain-lain.

Yang dimaksud dengan “kondisi orang yang mengambil faidah” yaitu mengenal kondisi/keadaan seorang mujtahid.  yaitu orang yang dapat mengambil  faidah  hukum  dari  dalil-dalil. Disebutkan di dalamnya syarat-syarat ijtihad dan Mujtahid,  hukumnya dll.

Adapun Qowaidhul Fiqih adalah satu perkara menyeluruh yang dibangun diatasnya bagian besar hukum yang merupakan cabang dari perkara yang menyeluruh tersebut serta dapat dipahami dari perkara menyeluruh tersebut hukum-hukum cabang yang berada di bawahnya.

Contoh dari salah satu  Qowaidhul Fiqih semisal “Setiap amalan tergantung dari niatnya” maka dari kaidah umum ini dapat diambil hukum terhadap cabang-cabang yang berada di bawahnya baik dalam ibadah seperti sholat,puasa,haji dll ataupun perkara muamalah seperti Jual beli dll

PERBEDAAN ANTARA USHUL FIQIH DAN QOWAIDHUL FIQIH

Terdapat beberapa perbedaan antara ushul fiqih dan Qowaidhul Fiqih yang disebutkan para ulama, diantaranya yang paling mendasar adalah Ushul Fiqih digunakan  untuk memahami dalil kemudian mengambil sisi pendalillan darinya, contohnya ketika seseorang membaca hadits tentang larangan kencing di air yang tergenang, maka orang tersebut langsung mengatakan bahwa hukum kencing di air yang tergenang adalah haram karena  dalam ushul Fiqih “Hukum larangan dalam syariat secara asal menunjukkan keharaman” Sehingga bisa dikatakan bahwa kaidah ushul fiqih membutuhkan dalil untuk diterapkan padnya kaidah ushul fiqih tersebut.

Sedangkan Qowaidul Fiqih bisa dikatakan bahwa kaidahnya-kaidahnya dapat langsung diterapkan pada cabang-cabang ibadah dan muamalah yang berada di bawahnya tanpa membutuhkan melihat atau mendatangkan dalil syariat dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, karena kaidah ushul fiqih sendiri sebagian besar dibangun diatas dalil al-Qur’an dan As-sunnah. Misalkan kaidah Fiqih: “Setiap amalan tergantung pada niatnya” maka kaidah ini sendiri adalah kaidah yang dibangun diatas Lafadz hadits umar bin Khathab Rhadiyallahu ‘anhu.

Lalu ada pula yang disebut Dhawabitul Fiqih, bedanya dengan Qowaidul Fiqih adalah Dhawabitul fiqih hanya dapat diterapkan pada satu cabang atau sebagian kecil cabang bab-bab Fiqih, adapun Qowaidul Fiqih dapat diterapkan pada sebagian besar bab-bab fiqih. Misal dari Dhawabitul Fiqih adalah : “Setiap najis pasti haram” yakni maknanya bahwa setiap sesuatu yang dihukumi najis maka otomatis haram memakan dan meminumnya. Dan kaidah ini hanya mencakup bab bersuci dan bab makan dan minum, bedakan dengan Qowaidul  Fiqih yang kaidahnya lebih global dan menyeluruh.

Sumber catatan :

Ushul min Ilmil Ushul, Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah

Tahqiq dari Qowaid wa Ushul Jami’ah, Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah

%d blogger menyukai ini: