Tidak ada Hukum darurat dalam masalah Pengobatan

Termasuk dari Kaidah yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Tidak ada hukum darurat dalam masalah pengobatan” (As-Syarhul Mumti’ 1/453)

Penjelasan :

Beliau mengatakan bahwa terkadang seseorang yang yang sakit bisa sembuh tanpa obat yang katanya darurat tersebut dan sebaliknya terkadang seseorang tidak bisa sembuh walaupun meminum obat tersebut.

Beliau menyebutkan ini untuk melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa kencing unta adalah najis dan Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam memerintahkan untuk meminumnya dalam keadaan sudah jelas meminum sesuatu yang najis adalah haram dikarenakan karena darurat sebagai pengobatan. Maka beliau melemahkan pendapat ini dengan kaidah yang telah beliau sebutkan di atas. Beliau juga mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan obat untuk umat ini pada perkara-perkara yang diharamkan.

4 Tanggapan

  1. Bismillah..
    Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh
    Bolehkah ana copas artikel dr blog ini?

  2. Bismillahi, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Mohon diberikan penjelasan lebih lanjut sehubungan dengan kaidah fiqih ini.

    Sementara itu Asy Syaikh Nashir As Sa’di dalam kitabnya Mandhumah Qawaidul Fiqhiyah menyebutkan diantara kaidah fiqih:

    “Tidak ada keharaman jika bersaman dengan darurat (bahaya).”

    Yang ana pahami seolah-oleh kedua kaidah ini bertentangan. kaidah pertama mengatakan tidak boleh berobat dengan yg haram sementara kaidah kedua mengatakan boleh saja karena itu darurat, dengan beberapa syarat.

    Bagaimana mengkompromaikan kedua kaidah fiqih ini? Bukankah sakit adl daurat? Mohon penjelasannya, jazakallahu khoiron wabarokallahu fiikum.

    Abu Harun di Cikarang, Bekasi-Jawa Barat.

    • Kaidah :
      “Tidak ada keharaman jika bersaman dengan darurat (bahaya).”
      bukan hanya kaidah dari As-Sa’di, tapi kaidah hampir seluruh ulama.. kalau tidak bisa dikatakan Ijm’a..
      Permasalahannya :
      “Ibnu utsaimin tidak menganggap bahwa obat yang berasal dari yang haram sebagai sebuah darurat, karena tidak terpenuhi syarat-syarat darurat (coba lihat syarat-syarat sesuatu dikatakan Darurat)
      sehingga tidak bisa disamakan antara seseorang yang tersesat di sebuah pulau, dan sama sekali tidak ada makanan kecuali makanan haram dengan seseorang yang sedang sakit lalu dikabarkan bahwa ada obat untuk sakitnya tersebut akan tetapi dari sesuatu yang haram”
      Jadi permasalahannya bukan kaidah yang bertentangan, hanya saja ibnu utsaimin tidak menganggap keadaan kedua sebagai sebuah darurat, karena tidak terpenuhi syarat-syarat darurat.
      Wallahu a’lam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: