Hamba yang pandai bersyukur dan mampu bersabar

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ • قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran 14-15)

Siapa yang tidak ingin hidup enak ??? bisa dipastikan hampir semua manusia biasa menginginkannya, Dan sungguh normal apabila manusia ingin mendapatkan kehidupan yang nyaman. Ingin memiliki harta yang banyak, memiliki kekuasaan, istri yang cantik, anak-anak yang lucu serta  tentunya juga dikaruniai tubuh yang sehat. Sebuah naluri yang sangat-sangat alami ketika seorang mahluk mendambakan sesuatu yang akan menyenangkan dirinya. Jangankan kita sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, seekor hewan saja secara naluri akan memilih rumput yang masih segar dan basah dibandingkan rumput yang sudah kering.

Tidak  ada yang salah dari naluri alami tersebut, akan tetapi karena kita seorang muslim yang telah mengikrarkan tunduk pada ketentuan Rabb semesta alam, tentunya ada rambu-rambu yang harus dipegang di dalam mendapatkan dan mengelola impian – impian kita tersebut. Karena kita adalah manusia, mahluk yang dibebani syariat bukan seperti binatang yang tidak dilarang dan diperintah. Allah berfirman :

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Artinya : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja ? (QS-Al-Qiyamah : 36)

Berkata Mujahid, Imam As-Syafi’I dan Abdurrahman bin Zayd bin Aslam Rahimahumullahu ketika menafsirkan ayat ini : “Yakni tidak diperintah dan tidak dilarang ??” (Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qiyamah : 36 )

Maka ketika seorang hamba berusaha mengejar impiannya tersebut, semisal seorang hamba sibuk dengan mencari nafkah dan berkeinginan mengumpulkan harta yang banyak,  maka ini tidak salah, bahkan ini adalah sebuah kemuliaan ketika seseorang makan dari hasil keringatnya sendiri.

Dari Al-Miqdad bin Ma’dikarib Rhadiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda :

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده

Artinya : “Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan, sekalipun sedikit, yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabiyullah Dawud ‘alaihis-salam itu juga makan dari hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari No .2072)

Akan tetapi hal itu menjadi salah ketika dalam mencari nafkah dan proses mengumpulkan harta itu sampai membuat dia meninggalkan pekara yang wajib atau sampai membuat terjatuh mengerjakan perkara yang haram.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiquun : 9)

Dan juga ingatlah juga firman Allah tentang larangan mencari harta dengan cara yang bathil :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil(QS. Al-Baqarah : 188)

Tidak ada yang salah pula ketika seorang hamba memimpikan seorang wanita yang cantik jelita untuk menjadi pendamping hidupnya, bukankah salah satu sebab dinikahinya seorang wanita adalah kecantikannya, sebagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda ;

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya :  “Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari No. 5090 dan Muslim No. 1466 dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu)

Akan tetapi menjadi salah ketika proses untuk mendapatkan wanita cantik itu membuat kita sampai terjatuh kepada dosa kesyirikan dan kemaksiatan, dan menjadi salah juga apabila kita memilih wanita cantik yang kita tahu dia akan menjerumuskan kita ke sebuah kejelekkan…

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

Artinya : Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu” (QS. Al-Baqarah : 221)

Tidak salah pula apabila seorang hamba ingin memiliki anak-anak yang banyak, yang lucu dan menggemaskan, bahkan banyaknya anak ini kelak akan menjadi kebanggaan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam :

تزوجوا الولود الودود ؛ فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة</strong>

Artinya : ““Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak (subur) karena aku akan berbangga dengan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat yang lain” (HR Abu Dawud No 2050 dari Anas Rhadiyallahu ‘anhu Berkata Syaikh Al-Albani , “Hasan Shahih” )

Akan tetapi akan menjadi masalah , apabila kecintaan kepada mereka menjadikan kita semakin jauh dari Allah, dan membuat kita melakukan apa saja demi mewujudkan kecintaan kepada mereka tanpa peduli hal itu halal atau haram, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi” (QS. Al-Munafiquun : 9)

Allah telah pula mengingatkan bahwa kehadiran anak-anak kita juga merupakan sebuah ujian, Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Ath-Thaghabun : 15).

Tidak salah pula ketika kita kita dipercaya untuk memegang sebuah sebuah amanah dan kekuasaan tanpa kita pernah memintanya . Bahkan sebuah amanah dan kepemimpinan apabila ditunaikan maka hal itu bisa menyebabkan seseorang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya : “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai kerena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak seorang perempuan cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Orang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan seorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya” (HR. Bukhari No. 660 dan Muslim No. 1031 Dari Abu Hurairoh Rhadiyallahu ‘anhu)

Akan tetapi apabila kita tidak menunaikan amanat itu, maka sungguh ingatlah ancaman yang diberikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam :

<p style=”text-align: right;”>مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً ، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ ، إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Artinya : “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, kemudian dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, kecuali dia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Bukhari No. 7150 dan Muslim No. 142 dari Ma’qil bin Yassar Rhadiyallahu ‘anhu )

Maka sudah sewajibnya bagi orang-orang yang telah mendapatkan kehidupan yang nyaman di dunia ini untuk terus bersyukur dan berusaha agar terus berada di atas ketaatan, banyak-banyaklah kalian berdoa :

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS Al-Ahqof : 15)

Adapun bagi yang belum mendapatkan kehidupan yang sesuai harapannya di dunia ini, maka janganlah bersedih. Sesungguhnya kehidupan yang kekal adalah di akherat. Allah berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Artinya : “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal’ (QS. Al-A’la : 17)

Dan dia harus meyakini bahwa tidaklah sebuah musibah dan ujian yang dia alami kecuali itu adalah merupakan sebab bagi dia untuk bisa mendapatkan yang lebih baik di akhirat, sungguh Allah Subhana Wa Ta’ala telah mengabarkan dalam firmannya :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ• الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ • أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[ Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali].mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)

Maka, apapun keadaan yang menimpa seorang mukmin , sungguh akan mendatangkan kebaikan baginya, baik ketika dia sedang mendapatkan kelapangan maupun mendapatkan kesempitan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda :

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkara adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan dia bersyukur maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan dia bersabar maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999 dari Shuhaib Rhadiyallahu ‘anhu)

Maka catatan ini kami tutup dengan sebuah doa dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam , doa yang apabila seorang mencermatinya maka akan bisa melihat urutan-urutan terpenting kemudian baru yang penting yang harus diminta dan diimpikan oleh seorang hamba. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam berdoa :

اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى

Artinya : ;” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, ketakwaan, Affaf (Kekuatan menjauhkan diri dari yang tidak diperbolehkan) dan Kekayaan (kecukupan) “ (HR. Muslim No. 2721 dari Abu Ahwash Rhadiyallahu ‘anhu)

و الله أعلام

2 Ramadhan 1432 H, 23:06

60St, Near Ijabah Mosque

%d blogger menyukai ini: