Catatan untuk Buku meniti kesempurnaan iman karya Habib Munzir Al-Musawa (bag. 1)

Ini adalah catatan tambahan saja, untuk bantahan yang ditulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharitsman yang berjudul BANTAHAN TERHADAP BUKU MENITI KESEMPURNAAN IMAN KARYA HABIB MUNZIR AL-MUSAWA (BAG I : ISTIGHOTSAH)

Oleh sebab itu, sebelum membaca catatan ini hendaknya membaca artikel tersebut. disini

Pada BAB I : Istighosah, Hal 6 Habib mengatakan :

Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk  meminta  pertolongannya  adalah  hal  yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah  swt,  tak  pula  terikat  ia  masih  hidup  atau telah wafat. Karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan  dalam  kehidupan  dan  kematian  atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam  kemusyrikan  yang  nyata,  karena  seluruh manfaat  dan  mudharrat  berasal  dari  Allah  swt. Maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt.Ketika  seseorang  berkata  bahwa  orang  mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaaat dan kematian adalah mustahilnya manfaaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian

——————————————– (sampai disini nukilan)

 Ucapan habib : ” Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk  meminta  pertolongannya  adalah  hal  yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah  swt”

Maka kita katakan seandainya saja, sekali lagi seandainya saja….ucapan ini kita terima… maka dari manakah bolehnya orang-orang yang meminta pertolongan dengan orang-orang yang sudah meninggal yang tidak jelas kedudukannya di sisi Allah. Sekali lagi, Seandainya saja ini ucapan ini benar (dan tidak benar) maka harusnya tidak boleh meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati kecuali dengan orang-orang yang kata habib munzir  ” diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah  Subhana Wa Ta’ala”  Maka kalau orang-orang itu konsekuen dengan dengan kalimat ini,  maka kita tidak akan melihat orang-orang semisal habib Munzir dan pengikutnya meminta pertolongan kecuali kepada hamba-hamba yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam sebagai hamba yang memiliki kedudukan di sisi Allah, seperti para nabi, Maryam bintu Imron, luqman, Abu Baker, Umar dan semua yang telah datang penyebutannya dalam al-qur’an dan assunah sebagai hamba-hamba sholih.

Lalu dalil dari mana orang-orang zaman sekarang memohon pertolongan kepada wali mbah priok, wali songo, syaikh abdul qodir zailani, dll ??? apakah ada penyebutan dalam al-qur’an atau as-sunnah tentang kedudukan mereka di sisi Allah ???

Maka bisa jadi habib dan orang yang semisalnya meyakini bahwa orang-orang itu memilki manzilah disisi Allah. Maka renungkanlah hadits ini :

Suatu ketika seorang sahabat mulia Utsman bin Madz’un Rhadiyallahu ‘anhu meninggal dunia,segeralah seorang wanita mempersaksikan baginya kemuliaan di Akhirat,namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari (2687), bahwa seorang wanita bernama Umul ‘Ala, wanita Anshor yang pernah berbaiat kepada Rasulullah  berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang muhajirin, maka kami mendapatkan bagian Utsman bin Madz’un Rhadiyallahu ‘anhu sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia dirundung sakitnya yang menyebabkan kematiannya, maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, aku-pun mengatakan,

رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لقد أَكْرَمَكَ الله

“Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Madz’un),persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu”,maka serta merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 وما يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ أَكْرَمَهُ فقلت بِأَبِي أنت يا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ الله فقال أَمَّا هو فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ والله إني لَأَرْجُو له الْخَيْرَ والله ما أَدْرِي وأنا رسول اللَّهِ ما يُفْعَلُ بِي قالت فَوَاللَّهِ لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

“Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya”. Akupun mengatakan, ”Ayahku sebagai tebusanmu Wahai Rasulullah, lalu siapa yang Allah muliakan?” Rasulullah menjawab: ”Adapun dia maka telah datang kematiannya, demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan, demi Allah saya sendiri tidak tahu -padahal aku ini adalah utusan Allah- apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku”. Umul ‘Ala mengatakan: Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya”

Coba renungi kisah ini, siapakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah Utsman bin Madz’un Rhadiyallahu ‘anhu  dan siapakah Umul ‘Ala Rhadiyallahu ‘anha. [1]

Maka persaksian terhadap seseorang yang sudah mati memiliki manzilah di sisi Allah,dirahmati Allah atau masuk surga tidak bisa ditentukan oleh ijtihad manusia, akan tetapi hanya Allah yang bisa menentukannya baik melalui firmannya atau melalui lisan Rasulnya Shalallahu ‘alaihi wassallam .

Maka orang-orang yang menyeru kepada wali-wali,kyai-kyai,habib-habib yang sudah mati tersebut apabila memang seperti yang dikatakan habib munzir yaitu : ” diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah  Subhana Wa Ta’ala”

Maka mereka merasa lebih memilki ilmu dibanding Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam dan para sahabatnya. Naudzubillah

Mungkin ada yang menjawab , maksud kami adalah : ” yang disangka mempunyai manzilah di sisi Allah  Subhana Wa Ta’ala

Maka kami katakan, bahwa manusia menyangka bahwa seseorang sholih maka terkadang dia bukan orang sholih, ingatlah hadits :

Dalam Sunan Abu Daud diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radliyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Pada hari kiamat ada seorang lelaki yang dihadapkan lalu dilemparkan ke dalam neraka sampai terburai isi perutnya. Lalu ia berputar-putar laksana keledai yang berputar-puter mengelilingi penggiling gandum. Maka para penghuni neraka berkerumun kepadanya dan bertanya : ‘Hai Fulan, mengapa kamu masuk di sini, bukankah kamu dulu orang yang memerintahkan kami kepada kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’ Ia menjawab : ‘Dulu saya memang memerintahkan kalian kepada kebaikan namun saya tidak menjalankannya dan saya melarang kalian dari kemungkaran namun saya melakukannya.’”

Dan yang lebih penting lagi, bagaimana seseorang bisa berbicara tentang Allah tanpa ilmu hanya dengan prasangka , Allah berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (QS.Al-A’raf:33)

Dan bukanlah maknanya apabila kita tidak mepersaksikan individu tertentu sebagai orang yang memiliki manzilah di sisi Allah atau dirahmati Allah maka kita berarti meyakini orang itu masuk neraka, atau tidak dirahmati Allah. Sama sekali tidak, maknanya adalah kita tidak boleh meyakini seorang individu tertentu masuk surga atau masuk neraka kecuali dengan dalil

Maka kalau seseorang sudah mencukupi dengan penjelasan ini dan meninggalkan meminta tolong dengan orang-orang meninggal, maka itulah yang diharapkan. Tapi bisa jadi ada yang mengatkan : “mulai sekarang saya akan meninggalkan memohon pertolongan kepada orang-orang yang tidak datang dalil tentang manzilahnya di sisi Allah, saya hanya akan meminta pertolongan dengan para nabi , rasul, sahabat rasul dan orang-orang sholih yang telah diyakini meiliki manzilah di sisi Allah.”

Maka sesungguhnya hidayah dan taufik hanya milik Allah, maka jawaban untuk ini ada pada artikel Al-Ustadz Abu Utsman.

Kemudian ucapannya  : Karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan  dalam  kehidupan  dan  kematian  atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam  kemusyrikan  yang  nyata,  karena  seluruh manfaat  dan  mudharrat  berasal  dari  Allah  swt. Maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt.Ketika  seseorang  berkata  bahwa  orang  mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaaat dan kematian adalah mustahilnya manfaaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian

———————————————–(sampai disini nukilan)

Kami pun setuju bahwa seluruh manfaat dan mudharat dari Allah, seluruh muslim pun sepakat permasalahan ini. Dan kami pun sepakat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, maka jangankan orang yang sudah meninggal, seandainya saja Allah menghendaki , Allah maha mampu menjadikan batu hidup dan menolong kita, bukankah Allah telah menjadikan batu bisa berlari dan membawa lari baju musa alahi salam ??? akan tetapi titik perbedaannya adalah Allah sendiri telah menetapkan bahwa manfaat dan mudaharat itu diletakkan pada sebab-sebab. Misalkan saja kita ingin menyalakan api pada sebuah kompor, dan kompor itu kita isi dengan air bukan dengan minyak tanah, karena kita berkeyakinan bahwa Allah maha mampu atas sesuatu. Apakah ini benar atau salah ??? maka kita katakan bahwa  keyakinan dia benar, Bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu dan maha mampu untuk menjadikan Air bisa menyalakan api tapi apakah ini tindakannya benar ??? tentu tidak, karena apa ??? karena Allah yang maha mampu telah meletakkan semua sebab pada tempatnya , dan Allah telah menjadikan sebab manfaat untuk mendatangkan api pada minyak tanah, gas, dll.

Begitu juga soal meminta pertolongan kepada orang yang sudah meninggal, ketika kita katakan bahwa orang yang mati dan orang yang hidup itu berbeda dalam masalah manfaat dan mudharat, maka bukan berarti kita mengatakan bahwa Allah tidak mampu menjadikan orang-orang meninggal itu memberi manfaat ??? permasalahannya adalah , kembali kepada Air dan Api tadi, apakah datang dalil bahwa orang yang sudah meninggal itu bisa mendatangkan manfaat kepada orang yang hidup ?? itu yang dibahas…  bukan soal keyakinan Allah mampu atau tidak mampu..

Maka ingatlah, Allah yang maha mampu, Dia sendiri yang telah membedakan antara orang yang masih hidup dan yang sudah mati :

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ  وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Tidaklah sama antara orang buta dengan orang yang melihat, Tidak pula sama kegelapan dengan cahaya ,Tidak pula naungan dengan sesuatu yang panas , Dan tidak sama antara orang yang hidup dengan orang yang mati. Sesungguhnya Allah memperdengarkan kepada orang –orang yang dikehendakiNya, dan tidaklah engkau mampu memperdengarkan kepada orang yang berada di (alam)kubur  (Q.S Fathir :19-22)

Maka berpikirlah orang-orang yang mecari kebenaran

Habib Munzir menyatakan (halaman 7-8):

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka–mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya: mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat. Pertanyaannya adalah: kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt? kenapa bukan orang yang hidup? kenapa bukan gunung? kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin

—————————————————(sampai disini nukilan)

Sebagai tambahan bantahan yang sudah disampaikan Al-Ustadz Abu Utsman, bahwa gereja di jepang juga ada yang selamat pada tahun 2009 .

Ada juga gereja yang selamat di mexico setelah Gunung berapi pada tahun 1943 Semua diagungkan oleh kamu nasrani dan tersebar di Internet…

Apakah maknanya berarti Allah mengajarkan berlindung dengan gereja ?????

 Wallahu A’lam


[1] Dinukil dari Artikel Jangan gampang menvonis Syahid :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: