Pembagian Tauhid di Kalangan Para Ulama

Catatan ini adalah penyempurnaan dari catatan sebelumnya, yang berjudul Awal yang membagi tauhid menjadi tiga bagian. Pada catatan tersebut telah dijelaskan tentang yang pertama membagi tauhid menjadi Tiga bagian. Dan pada catatan ini akan dijelaskan tentang metode Pembagian Tauhid di kalangan para ulama selain dari metode pembagian yang tiga.

Para ulama memiliki beberapa metode pembagian Tauhid yang mereka landaskan dari penelitian Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan apabila dicermati dan diperhatikan maka disimpulkan bahwa pembagian-pembagian tersebut kembali ke pembagian Tauhid yang tiga walaupun berbeda di dalam penamaan dan berbeda di dalam metode pembagiannya.

Metode Pertama, membagi Tauhid menjad Tiga bagian

  • Tauhid Al-Uluhiyyah
  • Tauhid Ar-Rububiyah
  • Tauhid Al-Asma was sifat

Metode pembagian seperti ini disebutkan oleh Ibnu Bathoh Al-Akbari (378 H), Ibnu Mandah (395 H), Ibnul Qoyyim (656 H), Ibnu Abil Iez (792 H), Muhammad bin Abdul Wahab (1206), Sulaiman Bin Abdul Wahab (1208 H) , Abdurrahman bin Hasan (1285), Ibnu Atieq (1301 H) dan selain mereka Rahimahumullah

Metode Kedua, membaginya menjadi dua bagian

  • Tauhid Al-Ma’rifat (Pengenalan) dan Al-Itsbat (Penetapan). Mencakup Tauhid Ar-Rububiyah dan tauhid Al-Asma was Sifat
  • Tauhid Ath-Tholab (Tuntutan) dan Al-Qosdu (Maksud/tujuan), mencakup tauhid Al-Uluhiyyah

Dan Syaikhul Islam telah menyebutkan pembagian ini, begitu juga Ibnul Qoyyim, Ibnu Abil Iez, Shidiq Hasan Khan (1307 H), Abdurrahman bin Hasan dan selainnya Rahimahumullah

Metode Ketiga, Juga membaginya menjadi dua

  • Tauhid Ar-Rububiyah, Mencakup tauhid Al-Asma was Sifat
  • Tauhid Al-Uluhiyyah

Pembagian seperti ini juga disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, Al-Miqrizi (845 H), Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahumullah

Wallahu A’lam

Sumber : Minhatul Hamied, Kholid bin Abdullah Ad-Dubaini, (14-15)

Catatan untuk Buku meniti kesempurnaan iman karya Habib Munzir Al-Musawa (bag. 1)

Ini adalah catatan tambahan saja, untuk bantahan yang ditulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharitsman yang berjudul BANTAHAN TERHADAP BUKU MENITI KESEMPURNAAN IMAN KARYA HABIB MUNZIR AL-MUSAWA (BAG I : ISTIGHOTSAH)

Oleh sebab itu, sebelum membaca catatan ini hendaknya membaca artikel tersebut. disini

Pada BAB I : Istighosah, Hal 6 Habib mengatakan :

Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk  meminta  pertolongannya  adalah  hal  yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah  swt,  tak  pula  terikat  ia  masih  hidup  atau telah wafat. Karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan  dalam  kehidupan  dan  kematian  atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam  kemusyrikan  yang  nyata,  karena  seluruh manfaat  dan  mudharrat  berasal  dari  Allah  swt. Maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt.Ketika  seseorang  berkata  bahwa  orang  mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaaat dan kematian adalah mustahilnya manfaaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian Baca lebih lanjut

Berdoa dengan sifat-sifat Allah

Dari Haulah Bintu Hakim Rhadiyallahu ‘anha, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda :

 مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang turun (masuk) ke suatu tempat kemudian berdoa :” Aku berlindung dengan Kalimat (wahyu) Allah yang sempurna dari kejelekkan apa-apa yamg telah dia ciptakan. ” maka tidak ada sesuatu yang akan memudharatkannya hingga dia pergi dari tempat itu” (HR. Muslim No. 2708)

Dalam hadits ini terdapat dalil tentang disyariatkannya berdoa dengan sifat Allah, dan ini adalah termasuk tawassul dengan sifat Allah yang disyariatkan. Dan bukanlah  doa kepada sifat itu sendiri. Dan berdoa dengan nama-nama Allah yang semuanya mengandung sifat-sifat Allah diperintahkan oleh Allah sendiri dalam firmanNya : Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: