Hukum memakai Imamah

Fatwa  Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullahu

Muhammad Ahmad dari Urdun (Jordania) berkata : Saya bertanya tentang (derajat) Keshohihan hadits Nabawi yang aku telah mendengarnya dari salah seorang Ikhwan lebih dari setahun yang lalu. Maka sungguh aku telah mendengarnya berkata bahwa sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi Wassallam berkata “ Sholat dengan menggunakan Imamah (Surban) [1] lebih baik dibanding empat puluh kali Sholat tanpa Imamah”
Apakah ini adalah Hadits (Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam ) atau bukan ???

Maka beliau ( Ibnu Baaz Rahimahullah ) menjawab : Hadits ini adalah Hadits Bathil Maudhu’ (palsu) yang didustakan atas Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam . Dan Imamah juga yang lainnya dari jenis pakaian mengikuti adat manusia (masyarakat. Pent). Maka apabila engkau berada di kalangan manusia yang kebiasaanya adalah memakai Imamah maka pakailah Imamah dan apabila engkau berada di kalangan manusia yang kebiasaannya tidak memakai imamah dan mereka menggunakan Al-Gutroh[2]atau membiarkan tanpa sesuatu apapun menutupi kepala mereka maka lakukanlah seperti yang mereka lakukan.

Maka Imamah bukanlah dari termasuk dari perkara-perkara yang dituntut secara syar’i akan tetapi imamah termasuk dari perkara-perkara yang mengikuti adat manusia. Dan seorang Insan diperintahkan untuk memakai apa-apa yang dipakai oleh manusia kecuali (pakaian) yang haram. Karena sesungguhnya apabila dia menyelisihi manusia di dalam hal pakaian mereka maka pakaiannya menjadi pakaian Syuhroh[3] dan sesungguhnya dia dilarang dari pakaian Syuhroh.

Allahuma , kecuali apabila dia berada di negeri asing dan pakaian penduduk negeri ini menyelisihi pakaian laki-laki yang datang kepada mereka ini,  maka dalam keadaan itu tidak mengapa bagi dia untuk tetap diatas pakaiannya yang (digunakan) di negerinya. Karena sesungguhnya manusia telah mengetahui bahwa sesungguhnya laki laki ini adalah orang asing dan sesungguhnya tidak mengherankan apabila pakaiannya menyelisihi pakaian mereka . Sebagaimana yang kita temui sekarang di Mekkah dan Madinah , manusia memakai pakaian mereka atas bentuk (model) (yang mereka gunakan) di negeri mereka dan tidak ada satu pun yang mengingkari hal tersebut. Dan kesimpulan dari pembahasan ini sesungguhnya kita katakan bahwa hadits ini yang ditunjuk (ditanyakan) oleh penanya adalah hadits Batil Maudhu’  yang didustakan atas nama Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam

Kedua kami katakan bahwa memakai Imamah bukanlah sunnah akan tetapi (hukum) memakainya adalah tunduk (taat) kepada adat manusia yang laki-laki ini tinggal di antara mereka . Maka apabila mereka menggunakan Imamah maka hendaknya dia menggunakannya dan apabila mereka tidak menggunakannya maka hendaknya dia tidak menggunakannya. Dan aku katakan bahwa sesungguhnya Sunnah adalah mencocoki manusia yang dia tinggal di dalamnya di dalam pakaian mereka selama pakaian (mereka) tidak terlarang secara syar’I , maka sesungguhnya wajib atasmu dan atas mereka untuk menjauhinya (pakaian terlarang itu.pent) . Kemudian sesungguhnya aku telah menyebutkan bahwa sesorang insan apabila datang ke negeri yang pakaian mereka menyelisihi pakaian penduduk negerinya dan dia dikenal sebagai orang asing, maka tidak ada kesalahan baginya utuk tetap di atas bentuk (model) pakaian penduduk negerinya dan tidaklah hal tersebut teranggap sebagai syuhroh.

Fatawa Nuurun alad Darb , Ibnu Baaz Rahimahullah 111/109-110


[1]  Imamah adalah Surban yang dililitkan dengan atau diikat berputar mengelilingi kepala, termasuk adat dari penduduk negeri Yaman dan sebagian negeri lainnya.

[2] Al-Gutroh adalah surban yang digunakan menutupi kepala tanpa dililit dan dibiarkan tergerai lepas, sebagaimana kebiasaan penduduk Saudi Arabia dan sebagian negeri lainnya.

[3] Pakaian Syuhroh adalah yang memalingkan pandangan dan menimbulkan Rasa heran dan tertawaan. Dan tidaklah yang termasuk darinya pakaian yang menutupi aurat, karena hal tersebut tidak akan menyebabkan keanehan dan tertawaan kecuali dari yang lemah agamanya dan rendah akalnya. (Fatawa Lajnah Da’imah  lil Buhuts wal Ifta’ no. 3618)

Teks asli :

محمد أحمد من الأردن يقول أسأل عن صحة حديث نبوي سمعته من أحد الإخوة قبل أكثر من سنة فقد سمعته يقول بأن النبي صلى الله عليه وسلم قال (صلاة بعمامة خير من أربعين صلاة بدون عمامة) هل هذا حديث أم لا؟

فأجاب رحمه الله تعالى:هذا الحديث حديث باطل موضوع مكذوب على رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم والعمامة كغيرها من الألبسة تتبع عادات الناس فإن كنت في أناس اعتادوا لبس العمامة فالبسها وإذا كنت في أناس لا يعتادون لبس العمامة وإنما يلبسون الغترة أو يبقون بلا شيء يستر رؤوسهم فافعل كما يفعلون فالعمامة ليست من الأمور المطلوبة شرعا لكنها من الأمور التابعة لعادات الناس والإنسان مأمور أن يلبس ما يلبسه الناس إلا إذا كان محرما لأنه إذا خالف الناس في لباسهم صار لباسه شهرة وقد (نهي عن لباس الشهرة) اللهم إلا إذا كان في بلد غريب وكان لباس أهل هذا البلد يخالف لباس هذا الرجل القادم إليهم فحينئذٍ لا بأس أن يبقى على لباسه في بلده لأن الناس يعرفون أن هذا رجل غريب وأنه لا غرابة أن يكون لباسه مخالفاً للباسهم كما يوجد الآن عندنا ولا سيما في مكة والمدينة أناس يلبسون ثيابهم على الزي الذي كانوا عليه في بلادهم ولا أحد يستنكر ذلك وخلاصة القول أن نقول هذا الحديث الذي أشار إليه السائل حديث باطل موضوع مكذوب على رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم
ثانياً أن نقول لبس العمامة ليس سنة ولكنه خاضع لعادات الناس الذين يعيش بينهم هذا الرجل فإن كانوا يلبسون العمامة لبسها وإن كانوا لا يلبسونها لم يلبسها وأقول إن السنة موافقة الناس الذين تعيش فيهم في لباسهم ما لم يكن لباسا ممنوعا شرعا فإنه يجب اجتنابه عليك وعليهم ثم إني ذكرت أن الإنسان إذا قدم إلى بلد يخالف لباسهم لباس أهل بلده وهو معروف أنه غريب فلا حرج عليه أن يبقى على زي أهل بلده لأنه لا يعد ذلك شهرة

Fatwa  Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rahimahullahu

Soal : Memakai imamah, apakah perkara tersebut Sunnah yang Tsabit dari Shalallahu alaihi Wassallam ??

As-Syaikh Rahimahullah : Tidak, memakai Imamah bukan sunnah akan tetapi merupakan adat (kebiasaan). Dan Sunnah untuk setiap insan untuk memakai apa yang dipakai manusia selama bukan yang diharamkan secara Dzatnya dan sesungguhnya apa yang kami katakan ini karena sesungguhnya apabila dia memakai  sesuatu yang menyelishi apa yang manusia terbiasa dengannya maka tentunya hal tersebut adalah Syuhroh dan Nabi Shalallahu alaihi Wassallam melarang dari pakaian Syuhroh.

Maka apabila kita berada di negeri yang (penduduknya) memakai Imamah maka kita memakai Imamah dan apabila kita berada di negeri yang (penduduknya) tidak memakai Imamah maka kita tidak memakai Imamah. Dan aku menyangka bahwa sesungguhnya negeri-negeri Muslimin pada zaman ini berbeda-beda, maka di sebagian negeri kebanyakkan memakai Imamah dan di sebagian negeri (lainnya) sebaliknya. Dan Nabi Shalallahu alaihi Wassallam memamakai Imamah karena Imamah merupakan kebiasaan di zamannya. Oleh sebab ini beliau tidak memerintahkan untuk memakai Imamah bahkan beliau melarang dari pakaian Syuhroh yang dengannya diambil (makna) bahwa sesungguhnya sunnah di dalam pakaian adalah seorang Insan mengikuti apa yang manusianya menganggapnya (kebiasaan /adat) kecuali sesuatu yang haram. Baca lebih lanjut

Jangan katakan : “Saya sudah tidak perawan ……”

Tak ada manusia yang sempurna, selalu saja ada masa lalu kelam yang terkadang selalu mengiringi hari-hari berikutnya. Hanya saja perbedaannya. Bahwa terkadang pada seseorang masa lalunya lebih kelam dari yang lainnya. Akan tetapi Allah dengan rahmatnya terus menerus menerima taubat hambanya, siang dan malam…. Sebelum Ajal menjemput dan sebelum Matahari terbit dari barat.

Allah berfirman :

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا . إِلا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh;Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon:68-70)

Dan diantara sekian masa lalu kelam yang banyak menimpa para pemudi Islam adalah pernah terjatuh pada perbuatan zina, kemudian Allah limpahkan kepadanya Hidayah dan dia bertaubat darinya. Maka datanglah hari dimana seorang lelaki yang ingin mempersuntingnya datang melamar. Hati pun bimbang, apakah harus mengabarkan tentang masa lalunya ataukah harus menutupinya ??

Maka ketahuilah wahai saudariku, termasuk dari rahmat Allah kepada hambanya adalah dengan menutupi aib-aib yang dilakukan oleh hambanya, Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu , Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( لَا يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” (HR. Muslim no. 2390)

Inilah kabar gembira dari Allah kepada hamba-hambanya, maka apabila sang pencipta Alam semesta, yang berhak mengadzab hamba-hambanya disebabkan dosa-dosanya menutupi dosa-dosa hambanya, maka tentunya lebih utama lagi hamba tersebut untuk menutupi aib dirinya sendiri dan juga dan aib saudaranya. Maka sekian banyak dalil-dalil menunjukkan hal tersebut, diantaranya adalah sabda Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam :

اجتنبوا هذه القاذورة التي نهى الله عز وجل عنها ، فمن ألمّ فليستتر بستر الله عز وجل عنه

Jauhilah dosa yang telah Allah larang. Siapa saja yang telah terlajur melakukan dosa  tersebut, maka tutuplah rapat-rapat dengan apa yang telah Allah tutupi.

(HR. Al-Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Shohihah 663 dari Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma )

Dan bahkan Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam mengancam bahwa orang yang suka membuka aibnya sendiri setelah ditutupi oleh Allah, maka Allah tidak akan mengampuninya.  Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam bersabda :

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahradalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup. (HR.  Bukhori No. 6069 dan Muslim 2990 dari Abu Hurairoh Radhiyallahu’ anhu )

Maka dari dalil-dalil ini maka seorang wanita tidak boleh membuka aibnya di masa lalu apabila dia telah berzina, walaupun yang bertanya adalah laki-laki yang akan melamarnya, Maka hendaklah dia mengelak dari pertanyaan tersebut, dan apabila terpaksa untuk menjawab, maka berilah jawaban dengan Tauriyah yaitu jawaban yang memberikan pemahaman makna berbeda bagi yang mendengar dengan yang diniatkan oleh yang ditanya.  Bisa saja dengan jawaban “ Kalau memang anda ragu, cari wanita lain“ atau dengan jawaban “Apakah anda menganggap saya seorang penzina ?? “ Atau dengan jawaban “Saya bukan seorang pelacur” atau dengan jawaban “ saya tidak berhubungan dengan laki-laki” dan dia niatkan dalam hatinya yakni saat itu, buka masa lalu.

Wallahu a’lam

*Catatan ini adalah pengembangan dari jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syitsri Hafidzahullahu Anggota Hai’ah Kibarul Ulama Saudi Arabia, pada saat Dauroh Ramadhan Kitab Sunan Abi Dawud, Di Masjidi Haram , Mekkah , Saudi Arabia. Bulan Ramadhan 1433 H.

Baca Juga :

Apabila Istri Sudah Tidak Perawan Lagi.

Menikahi wanita hamil karena Zina

Tren meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar patut mendapat perhatian berbagai kalangan. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperoleh fakta bahwa saat ini makin sulit menemukan remaja putri yang perawan (virgin) di kota-kota besar. Berdasar survei yang diadakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, BKKBN menemukan bahwa separo remaja perempuan sudah melakukan seks sebelum menikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil di luar nikah.
Rentang usia remaja perempuan yang pernah berhubungan seks di luar nikah itu 13–18 tahun atau usia ABG (anak baru gede). ’’Kami melakukan survei terhadap 100 remaja perempuan. Hasilnya, 51 orang di antara mereka sudah tidak perawan,’’ ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief di sela peringatan Hari AIDS Sedunia di Lapangan Parkir Monas, Jakarta, kemarin (28/11). Temuan serupa juga didapati di kota-kota besar lain di Indonesia. Selain di Jabodetabek, survei yang sama dilakukan di Surabaya, Medan, Bandung, dan Jogjakarta. Hasilnya, remaja perempuan lajang di Surabaya yang sudah hilang kegadisannya 54 persen Di Medan jumlahnya 52 persen, Bandung 47 persen, dan Jogjakarta 37 persen. Menurut Sugiri, data itu dikumpulkan BKKBN lewat survei sepanjang 2010. (Nukilan dari BKKBN.GO.ID)

Miris membaca artikel diatas, terlepas valid atau tidak hasil survey diatas, dan juga sedikitnya sampel survey  yang dianggap bisa mewakili jumlah remaja putri yang jutaan jiwa, maka sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini perilaku seks bebas pada remaja sudah begitu mewabah dan menjadi sesuatu yang sudah dianggap “biasa”.  Bahkan sampai ada anggapan di kalangan remaja, kalau di zaman  sekarang ini , pacaran tanpa sex maka ketinggalan zaman. Naudzubillah, dan ini adalah buah dari serangan pola pikir orang kafir dengan gaya hidup mereka  yang datang melalui berbagi media ditambah lagi kurangnya pembekalan agama setiap keluarga pada putra-putrinya.

Dan perilaku seks bebas tersebut berbuntut dengan banyaknya remaja putri yang hamil di luar nikah, dan kemudian karena tidak ingin menanggung malu maka orangtuanya pun menikahkan remaja tersebut baik dengan laki-laki yang telah berzina dengannya ataupun terkadang dengan laki-laki lain hanya untuk sekedar menutup aib.

Bagaimana pandangan syariat islam terhadap pernikahan ini ??

Ibnul Qoyyim Rahimahullahu dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad ketika mengomentari hadits Abu Darda Rhadiyallahu ‘anhu : Baca lebih lanjut

Jarh Wa Ta'dil di kalangan penuntut ilmu

Sebuah kesalahan akan selalu hinggap kepada seorang insan, tidak memandang  apakah orang tersebut orang biasa, penuntut ilmu atau ulama. Insya Allah semua orang berakal mengakuinya, dan hanya orang sombong dan angkuh yang tidak mengakui bahwa dirinya bisa terjatuh dalam kesalahan. Dan ini ditegaskan lagi oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam :

كل بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون

Artinya : “Setiap anak Adam itu mempunyai banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai banyak kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih Tirmidziy dari sahabat Anas bin Malik Rhadiyallahu ‘anhu ).

Dan kesalahan-kesalahan ini terjadi menyeluruh, bisa terjadi di akhlak kita, perkataan kita, tingkah laku kita, dan pada para ulama terkadang terjadi pada fatwa-fatwa mereka.

Dan catatan kali ini adalah sebuah catatan tentang menyikapi “kesalahan” ulama, sebuah catatan yang mudahan bermanfaat, karena terkadang sebagian penuntut ilmu ketika menemukan sebuah perkara atau fatwa yang dinisbahkan pada satu ulama tertentu yang mereka anggap salah maka mereka tergesa-gesa dan terburu-buru mengangkatnya tinggi-tinggi ke hadapan umat, bukan untuk memberi penjelasan kepada umat tentang kesalahan fatwa tersebut akan tetapi lebih kepada usaha untuk menjatuhkan derajat dan kedudukan ulama tersebut dalam keadaan ulama tersebut adalah ulama yang terkenal sebagai ulama yang memperjuangkan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam. Dan seandainya saja mereka mau jujur dan adil mau menimbang kesalahan fatwa ulama tersebut dibandingkan dengan  fatwa-fatwa mereka yang mencocoki sunnah maka sungguh bagai tetesan air najis di tengah danau, maka tidak membuat perubahan pada air danau tersebut.

Ibnu Utsaimin Rahimahullahu telah memberikan tahapan-tahapan bagi setiap orang terkhusus penuntut ilmu apabila melihat suatu kesalahan pada fatwa para ulama, tahapan-tahapan yang seandainya seseorang mau mengambilnya maka selamatlah dirinya dari kebodohan dan ketergesa-gesaan . Kami terjemahkan secara bebas dengan tanpa merubah maknanya. Berikut nukilannya :

Apabila seseorang mendengar nukilan atau selentingan tentang sesuatu dari ulama Rabbaniyun yang menurut dia layak untuk diingkari, maka berikut tahapan-tahapannya : Baca lebih lanjut

Hamba yang pandai bersyukur dan mampu bersabar

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ • قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran 14-15)

Siapa yang tidak ingin hidup enak ??? bisa dipastikan hampir semua manusia biasa menginginkannya, Dan sungguh normal apabila manusia ingin mendapatkan kehidupan yang nyaman. Ingin memiliki harta yang banyak, memiliki kekuasaan, istri yang cantik, anak-anak yang lucu serta  tentunya juga dikaruniai tubuh yang sehat. Sebuah naluri yang sangat-sangat alami ketika seorang mahluk mendambakan sesuatu yang akan menyenangkan dirinya. Jangankan kita sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, seekor hewan saja secara naluri akan memilih rumput yang masih segar dan basah dibandingkan rumput yang sudah kering.

Tidak  ada yang salah dari naluri alami tersebut, akan tetapi karena kita seorang muslim yang telah mengikrarkan tunduk pada ketentuan Rabb semesta alam, tentunya ada rambu-rambu yang harus dipegang di dalam mendapatkan dan mengelola impian – impian kita tersebut. Karena kita adalah manusia, mahluk yang dibebani syariat bukan seperti binatang yang tidak dilarang dan diperintah. Allah berfirman :

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Artinya : Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja ? (QS-Al-Qiyamah : 36) Baca lebih lanjut

Birrul Walidain

Berbakti kepada kedua orang tua, sebuah jihad yang terlalaikan.

Oleh : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

 

Telah berfirman Allah ta’ala :

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ المَصِيرُ

Artinya : ” Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tunanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepadaKulah kembalimu .” (QS. Luqman : 14)

Tidak butuh banyak kata-kata menafsirkan ayat ini, Insya Allah semua yang membaca akan paham tentang makna yang dikandungnya. Dalam ayat ini tergambar jelas perintah Allah kepada para hambanya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua mereka. Suatu perkara yang pada zaman ini seakan-akan menjadi sesuatu yang sulit ditemui. Bahkan sebaliknya, sumpah serapah, kata-kata kasar bahkan kalimat-kalimat tidak pantas telah menjadi makanan sehari-hari para orang tua. Dan anehnya sebagian manusia terkadang lebih hormat dan tunduk kepada atasannya di kantor atau kepada guru mereka di sekolah dibandingkan dengan kepada orang tuanya yang telah mengandung dan merawatnya dengan susah payah. Bahkan samapai-sampai apabila berbicara kepada guru atau atasan di kantornya sampai badannya sedikit membungkuk dan kepala menunduk-nunduk. Aneh, sungguh aneh..

Mari luangkan waktu kita sejenak wahai saudaraku untuk merenungi ayat, hadits dan ucapan para ulama tentang perkara penting ini, semoga setelah itu Allah memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita untuk menjelma menjadi seorang manusia yang pandai bersyukur dan membalas budi kepada manusia-manusia yang paling berjasa di hidupnya. ..baca lebih lengkap

%d blogger menyukai ini: