E-Book Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

(Sebuah panduan ringkas menyambut Ied Dan Ramadhan)

Disusun : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

DAFTAR ISI

  1. Kata Pengantar    ……………………………………………………………..2
  2. MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN BULAN SYA’BAN …4
  3. Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban ………………………………….5
  4. Larangan mendahului Puasa Ramadhan …………………………………..5
  5. Bid’ahnya perayaan malam Nisfu Sya’ban ………………………………….5
  6. MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN BULAN RAMADHAN 7
  7. Beberapa keutamaan bulan Ramadhan …………………………………….8
  8. Puasa Ramadhan ………………………………………………………………9
  9. Makna Puasa …………………………………………………………………10
  10. Puasa Ramadhan  adalah Wajib …………………………………………10
  11. Niat dalam Puasa Ramadhan  …………………………………………….12
  12. Bid’ahnya melafadzkan niat  ………………………………………………11
  13. Wajibnya berniat puasa ramadhan sejak malam hari ………………….12
  14. Berniat puasa Ramadhan setiap harinya …………………………………12
  15. Apabila berniat membatalkan puasa ……………………………………..12
  16. Barangsiapa  yang menemui fajar dalam keadaan berhadats besar 14
  17. Sahur ………………………………………………………………………….15
  18. Hukum Sahur ………………………………………………………………..15
  19. Sunnahnya mengakhirkan sahur …………………………………………15
  20. Dengan apa kita makan sahur ?? …………………………………………15
  21. Akhir waktu sahur adalah awal waktu puasa ……………………………..16
  22. Bid’ahnya istilah waktu Imsak ………………………………………………16
  23. Apabila terdengar adzan dan makanan masih terdapat di tangan 16
  24. Buka Puasa …………………………………………………………………17
  25. Sunnahnya menyegerakan berbuka ………………………………………17
  26. Doa ketika berbuka puasa ………………………………………………….17
  27. Sunnahnya berbuka puasa dengan kurma ……………………………….18
  28. Perkara yang wajib dihindari orang yang berpuasa ……………19
  29. Perkara yang disunnahkan bagi orang yang berpuasa ………20
  30. Bersiwak bagi orang yang berpuasa ……………………………………….20
  31. Menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa …………………….21
  32. Pembatal-pembatal Puasa ………………………………………………….21
  33. Makan, Minum dan bersetubuh ……………………………………………21
  34. Menelan ludah sendiri tidak membatalkan puasa ………………………22
  35. Hukum makan dan minum  dalam keadaan lupa     ……………………22
  36. Hukum Bersenggama dalam keadaan lupa ……………………………….22
  37. Merokok membatalkan puasa  ……………………………………………23
  38. Masturbasi atau Onani membatalkan puasa ……………………………23 Baca lebih lanjut

Tata cara Sholat Ied

SHOLAT IED

Sholat Ied wajib atas setiap Muslim laki-laki merdeka (bukan budak). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, satu riwayat dari Ahmad dan yang tampak dari ucapan imam As-Syafi’i. Dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Qoyyim , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As-Sayukani, Shidiq Hasan Khan, As-Sa’di dan Ibnu Utsaimin Rahimahumullah . Berdasarkan hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha :

أمرنا أن نخرج الحيض يوم العيدين وذوات الخدور فيشهدان جماعة المسلمين ودعوتهم ويعتزل الحيض عن مصلاهن قالت امرأة يا رسول الله إحدانا ليس لها جلباب ؟ قال ( لتلبسها صاحبتها من جلبابها )

Artinya : “Kami diperintah untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan Jama’ah dan dakwah kaum muslimin dan wanita yang haid diperintah untuk menjauhi tempat sholat wanita. Maka berkata seorang wanita : Wahai Rasulullah , salah seorang dari kami tidak memiliki Jilbab” maka beliau berkata :”:Hendaklah sahabatnya memakaikan padanya dari jilbab yang dia miliki” (HR. Bukhori No. 334 dan Muslim No. 890)

Berkata Imam As-Syafi’i : “Barangsiapa yang wajib atasnya menghadiri sholat Jum’at maka wajib atasnya menghadiri sholat dua hari raya”

Dan salah dalil yang menguatkan pendapat ini adalah ketika hari ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi yang sudah melakukan sholat ied tidak wajib baginya melakukan sholat Jum’at. Dalam keadaan bahwa Sholat Jum’at hukumnya Wajib, dan tidaklah menghilangkan sesuatu yang wajib kecuali dengan yang wajib pula.

Adapun hukum keluarnya wanita ke tanah lapang adalah Sunnah Mustahabah, tidak ada bedanya apakah wanita muda atau lanjut usia. Ini adalah pendapat Alqamah, Ishaq, Ahmad dalam satu riwayat, Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab.Dan boleh bagi wanita untuk sholat ied di rumahnya. Ini adalah pendapat Ibnu Rajab dan Malik.

Disunnahkan melaksanakan sholat ied di tanah lapang sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukannya di tanah lapang, Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Kecuali apabila ada udzur seperti hujan . Hal ini berlaku pula bagi penduduk Madinah dan Masjidil Aqsha, karena Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam selama di madinah tidak pernah melakukannya di mesjid beliau bahkan beliau melakukannya di tanah lapang. Sebagaimana dalam hadits Ummu Atiyah yang telah lewat . Dan dikecualikan oleh Ulama adalah penduduk Makkah, maka mereka tetap melaksanakannya di Masjidil Haram.

Dan bagi para wanita yang sedang haid atau nifas maka ditempatkan terpisah dari jama’ah kaum muslimin sebagaimana dalam hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha .

CARA PELAKSANAAN SHOLAT IED:

Waktu sholat ied adalah sejak naiknya matahari dan telah hilang waktu yang dibenci untuk sholat . Ini adalah pendapat Ahmad. Dan berakhir waktunya ketika matahari tergelincir.

Tidak ada adzan dan tidak pula iqomah dalam sholat ied, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdulllah Radhiyallahu’ anhum, berkata atha’ Rahimahullah : Baca lebih lanjut

Perkara-perkara yang terkait dengan Iedul Fitri

Diharamkan berpuasa di hari iedul fitri dan iedul Adha, dinukil Ijma’ oleh Ibnul Mundzir, Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar dalam permasalahan ini. Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ

Artinya : “ Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melarang dari berpuasa di  hari Iedul Fitri dan Hari raya kurban (HR. Bukhori No. 1991)

Disunnahkan untuk memperbanyak takbir pada iedul fitri di jalan-jalan, rumah, mesjid dan tempat-tempat lainnya, Ini adalah pendapat Mayoritas ulama.

Berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya :Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah : 185)

Dan takbir pada iedul fitri dimulai ketika terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan karena hari pada saat itu telah genaplah bilangan Ramadhan dan kita diperintahkan untuk bertakbir sebagaimana dalam ayat. Ini adalah pendapat Ibnu Musayyib, Urwah, Abu Salamah, Zaid bin Aslam dan As-Syafi’i. Dan berhenti bertakbir iedul fitri ketika imam bangkit untuk menegakkan sholat ied. Ini adalah pendapat sebagian ulama diantaranya Ibnu Utsaimin Rahimahullah .

Dan disunnhakan juga bagi wanita untuk bertakbir akan tetapi dengan suara yang pelan sebagaimana disebutkan permasalahan ini oleh Ibnu Rajab. Baca lebih lanjut

ZAKAT FITRAH

ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah diwajibkan kepada kaum muslimin bersamaan dengan diwajibkannya puasa Ramadhan yaitu pada pada tahun ke Dua Hijriyah. Zakat disebutkan dalam Al-Qur’an bergandengan dengan penyebutan Sholat terdapat di 26 tempat, Hal ini menunjukkan pentingnya zakat dalam syariat.

Zakat Fitrah wajib atas setiap muslim, laki-laki atau perempuan , besar ataupun kecil, merdeka atau budak. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma , beliau berkata :

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالانْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاةِ

Artinya : “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, kecil dan besar, laki-laki dan wanita dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat fitrah itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Idul Fitri).” (HR.Bukhori No. 1503 Muslim 984)

Dinukil Ijma’ tentang wajibnya zakat fitrah oleh Ibnul Mundzir dan Al-baihaqi sebagaimana dinukil oleh oleh An-nawawi Rahimahumullah . Walaupun sebenarnya terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini, dan yang berpendapat wajib adalah mayoritas ulama.dan cukuplah bagi kita hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma yang baru lewat tentang wajibnya zakat fitrah.

Dan bagi seorang istri maka dikeluarkan zakat fitrah dari hartanya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma bahwa zakat fitrah wajib atas laki-laki dan perempuan, Ini adalah pendapat Ats-Tsauri, Abu hanifah  dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Mundzir. Adapun apabila sang istri tidak memilki harta untuk menunaikan zakat fitrah maka dikeluarkan dari harta suaminya.

Anak-anak yang memilki harta , maka dikeluarkan dari hartanya sendiri, adapun apabila tidak memilki harta maka yang menunaikan adalah yang berhak menafkahinya. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma bahwa zakat fitrah wajib atas dewasa dan anak kecil. Begitu juga anak yatim, wajib bagi mereka menunaikan zakat fitrah apabila mampu, Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Ibnu Qudamah. Dan apabila tidak mampu maka walinya yang menunaikannya.

Begitu juga orang gila, wajib bagi walinya mengeluarkannya dari harta orang gila tersebut. Apabila tidak memilki harta maka dikeluarkan dari yang wajib menafkahinya. Karena zakat fitrah adalah zakat yang terkait dengan jiwa, bukan terkait apakah dia dibebani syariat atau tidak. Sebagaimana zakat fitrah juga diwajibkan atas bayi yang baru lahir dalam keadaan seorang bayi tidak dibebani kewajiban syariat seperti sholat dan puasa.

Janin yang masih di dalam perut atas pendapat yang shohih tidak wajib atasnya zakat fitrah. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama, bahkan Ibnul Mundzir menukil Ijm’a dalam permasalahan ini. Karena janin yang belum keluar dari rahim tidak diberikan untuknya hukum-hukum syariat sebagaimana manusia yang sudah hidup ke dunia kecuali pada dua perkara : warisan dan wasiat , itupun dengan syarat apabila keluar dalam keadaan hidup.

Zakat fitrah diwajibkan bagi yang memilki kelebihan dari makanan bagi dirinya dan yang menjadi tangungannya pada malam iedul fitri hingga hari iedul fitri. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama  diantaranya Malik, Az-Zuhri, Atha’, As-Syafi’i, Ahmad, Ibnul Mubarrok, Abu Tsaur dll. Sehingga tidak wajib zakat fitrah bagi yang tidak memilki makanan yang mencukupi bagi dirinya maupun yang menjadi tanggungannya pada malam ied  hingga hari ied. Adapun yang benar-benar tidak memiliki sesuatu untuk maka tidak wajib baginya zakat firah, sebagaimana dinukil Ijma’ oleh Ibnul Mundzir dalam permasalahan ini.

Ditunaikan zakat fitrah dengan jenis makanan pokok negeri tersebut, ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Malik, As-Syafi’ Ibnul Qoyyim dan Syaikhul Islam.Karena tujuan utama sedekah adalah untuk memberikan manfaat kepada fakir miskin dan tentunya lebih bermanfaat kepada mereka apabila yang diberikan adalah makanan pokok mereka sehari-hari, sehingga akan menjadi kurang sempurna apabila yang disedekahkan kepada mereka adalah makanan yang bukan merupakan makanan pokok mereka . Sebagaimana firman Allah tentang kafaarat melanggar sumpah :

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

Artinya : “Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu” (QS. Al-Maidah : 89)

Dan tidak cukup menunaikan zakat menggunakan uang. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Malik, Ahmad, As-Syafi’i , Ibnul Mundzir dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin. Karena pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah terdapat mata uang dinar dan dirham akan tetapi tidak pernah dinukilkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dan para sahabatnya mereka menunaikan zakat fitrah menggunakan dinar atau dirham dalam keadaan secara akal tentunya dinar dan dirham lebih mudah untuk digunakan. Dan agama tidak dibangun diatas akal akan tetapi dibangun diatas Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam .

Berat zakat fitrah yang wajib ditunaikan adalah 1 sha’ nabi Shalallahu ‘alahi wassallam sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar. 1 sha’ adalah 4 mud’ dan 1 mud adalah penuhnya 2 telapak tangan orang dewasa yang sedang , tidak besar maupun kecil.

Lajnah Da’imah lil Buhuts  wal Ifta’ (Dewan tetap untuk pembahasan (masalah syariat)dan fatwa) Saudi Arabia menaksir 1 Sha’ dengan berat kurang lebih 3 kg (Fatwa Lajnah Da’imah 9/371) begitu juga Syaikh Al-Bassam Rahimahullah beliau menaksirnya apabila dengan gandum berkualitas baik adalah seberat 3 Kilogram (Taudihul Ahkam 3/347). Adapun Ibnu Utsaimin Rahimahullah menaksirnya apabila dengan gandum yang berkualitas baik maka beratnya kurang lebih dengan 2 Kilogram 40 Gram (As-Syarhul Mumti’ 6/176)

Zakat fitrah wajib sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan (malam iedul fitri) . Ini adalah pendapat At-Tsauri, Ahmad , Ishaq , An-Nawawi dan satu riwayat dari Imam Malik, Dan wajib dikeluarkan sebelum keluarnya manusia menuju sholat Ied sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma yang telah lewat.

Zakat fitrah memiliki hukum khusus berbeda dari dari zakat-zakat lainnya (zakat harta, zakat barang temuan dll). Zakat fitrah tidak boleh dibagikan kecuali kepada fakir miskin, Inii adalah pendapat Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, dan As-Syaukani dan Al-Allamah Al-Albani Rahimahumullah . Sebagaimana Kafaarat memberi makan bagi orang yang bersumpah palsu atau orang yang membunuh secara tidak sengaja  tidak boleh diberikan kecuali kepada orang miskin begitu juga juga zakat fitrah. Dan yang menguatkan pendapat ini adalah Hadits Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma :

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah mewajibkan zakat Fitrah, Pembersih untuk orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada gunanya dan perkataan kotor dan makanan untuk orang-orang miskin” (Dihasankan Oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah Abu Dawud No. 1420)

Dan menurut pendapat yang shohih adalah tidak boleh membagikannya kepada fakir miskin sebelum waktunya yakni sebelum terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan (malam iedul fitri). Adapun yang dilakukan sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dengan menyerahkan zakat sehari atau dua hari sebelum ied[1] adalah menyerahkan kepada yang berhak mengumpulkannya (Amil zakat) bukan untuk dibagikan saat itu juga. Sehingga diperbolehkan mengumpulkan zakat sehari atau dua hari sebelum ied dan bukan untuk dibagikan sebelum waktunya.


[1] HR. Bukhari No. 1511

MALAM LAILATUL QADAR

MALAM LAILATUL QADAR

Atas pendapat yang shohih, Malam Lailatul Qadar terjadi diantara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan (21,23,25,27,29). Ini adalah pendapat Al-Hafidz, Abu Tsaur, Al- Mizzi, Ibnu Huzaimah, Ibnu Daqiqiel Ied dan sejumlah kalangan ulama. Berdasarkan hadits Aisyah dan Abu sa’id Radhiyallahu’ anhuma , Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya : ”Berjaga-jagalah (carilah) Lailatul Qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan” ( HR. Bukhari No. 2016-2017)

Dan bagi yang menghidupkan malam-malam lailatul qodar dengan ibadah yang disyariatkan maka dia termasuk yang dijanjikan mendapatkan keutamaan malam tersebut, walaupun dia tidak mengetahui bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar. Ini adalah pendapat Ath-Thabari, Ibnu Arobi dan Sebagian ulama dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin Rahimahullah .

Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir, beliau semakin menggiatkan ibadahnya. Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila telah memasuki sepuluh hari (terakhir dari Ramadhan), belliau membangunkan keluarganya (untuk beribadah), menggiatkan dan bersungguh-sungguh dalam ibadahnya” (HR. Muslim No. 1174)

Malam lailatul Qadar memilki beberapa tanda, diantaranya :

Hawa pada malam tersebut sedang, tidak panas tidak pula dingin. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

و هي ليلة طلقة بلجة لا حارة و لا باردة

Artinya : “Dan Malam lailatul qadar adalah malam yang cerah dan terang, tidak panas dan tidak pula dingin “ (HR. Ibnu Huzaimah dari Jabir dan Ibnu  Abbas, dan Diriwayatkan Ahmad dari Ubadah, datang juga dari sahabat yang lain dan dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Shohihul Jami’ No. 5472 atau 5475 )

Turun hujan pada malam tersebut, sebagaimana dalam hadits  Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhu , ketika beliau mengabarkan tentang jatuhnya malam lailatul qadar:

فمطرنا ليلة ثلاث وعشرين

Artinya : “Dan turun hujan pada kami pada malam dua puluh tiga (Ramadhan)” (HR. Bukhori No. 2118 dan Muslim No. 1168)

Pada pagi harinya matahari terbit tidak menyilaukan mata, berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu’ anhu :

والله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلى الله عليه و سلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها

Artinya : “ Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui pada malam keberapa malam itu (lailatul qadar) , malam itu adalah malam yang Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memerintahkan kami padanya untuk menghidupkannya yaitu malam dua puluh tujuh dan tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh hari itu berwarna putih dan tidak menyilaukan mata “ (HR. Muslim No. 762)

I’TIKAF

I’TIKAF

I’tikaf secara syariat maknanya adalah berdiam diri di mesjid yang dilakukan oleh Individu tertentu dengan cara-cara yang khusus dengan diiringi niat.

Hukum I’tikaf adalah Mustahabah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلآ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya : “Dan janganlah kamu menyentuh mereka, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Serta dari sunnah sebagaimana dalam hadits Aisyah, Ibnu Umar dan Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhum :

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (Mutaffaqun Alaihi)

Dan dinukilkan Ijma’ tentang mustahabnya I’tikaf kecuali bagi yang bernadzar untuk melakukan I’tikaf maka hukumnya menjadi wajib baginya untuk menunaikannya. Diantara yang menukilkan ijma’ dalam permasalahan ini diantaranya : Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi dan Ibnu Abdil Baar. Adapun I’tikaf nadzar maka wajib untuk ditunaikan sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma :

لَمَّا قَفَلْنَا مِنْ حُنَيْنٍ سَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اعْتِكَافٍ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَفَائِهِ

Artinya : “Ketika kami tiba dari perang Hunain, Umar bertanya kepada nabi Shalallahu ‘alahi wassallam tentang nadzar, Dia (umar) telah bernadzar ketika masa Jahiliyah untuk melakukan I’tikaf , Maka nabi Shalallahu ‘alahi wassallam merintahkan kepada Umar untuk menunaikannya” (HR. Bukhori No. 4320 dan Muslim No. 1646)

Diperbolehkan untuk tidak menyempurnakan Itikaf, maknanya apabila seseorang berniat untuk beri’tikaf selama sepuluh hari kemudian pada hari ketiga dia membatalkannya maka tidak ada dosa baginya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam As-Syafi’i. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah membatalkan I’tikafnya  pada bulan Ramadhan dan kemudian ber’tikaf pada bulan Syawal. Sebagaimana dalam hadits Aisyah : Baca lebih lanjut

I'TIKAF

I’TIKAF

I’tikaf secara syariat maknanya adalah berdiam diri di mesjid yang dilakukan oleh Individu tertentu dengan cara-cara yang khusus dengan diiringi niat.

Hukum I’tikaf adalah Mustahabah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلآ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya : “Dan janganlah kamu menyentuh mereka, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Serta dari sunnah sebagaimana dalam hadits Aisyah, Ibnu Umar dan Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhum :

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يعتكف في العشر الأواخر من رمضان

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (Mutaffaqun Alaihi)

Dan dinukilkan Ijma’ tentang mustahabnya I’tikaf kecuali bagi yang bernadzar untuk melakukan I’tikaf maka hukumnya menjadi wajib baginya untuk menunaikannya. Diantara yang menukilkan ijma’ dalam permasalahan ini diantaranya : Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi dan Ibnu Abdil Baar. Adapun I’tikaf nadzar maka wajib untuk ditunaikan sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma :

لَمَّا قَفَلْنَا مِنْ حُنَيْنٍ سَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اعْتِكَافٍ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَفَائِهِ

Artinya : “Ketika kami tiba dari perang Hunain, Umar bertanya kepada nabi Shalallahu ‘alahi wassallam tentang nadzar, Dia (umar) telah bernadzar ketika masa Jahiliyah untuk melakukan I’tikaf , Maka nabi Shalallahu ‘alahi wassallam merintahkan kepada Umar untuk menunaikannya” (HR. Bukhori No. 4320 dan Muslim No. 1646)

Diperbolehkan untuk tidak menyempurnakan Itikaf, maknanya apabila seseorang berniat untuk beri’tikaf selama sepuluh hari kemudian pada hari ketiga dia membatalkannya maka tidak ada dosa baginya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam As-Syafi’i. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah membatalkan I’tikafnya  pada bulan Ramadhan dan kemudian ber’tikaf pada bulan Syawal. Sebagaimana dalam hadits Aisyah : Baca lebih lanjut

SHOLAT TARAWIH

SHOLAT TARAWIH

Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dalam sholat tarawih di bulan Ramadhan adalah sebanyak 11 rakaat, sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Artinya : “Tidaklah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam menambah pada Ramadhan atau selain bulan Ramadhan dari 11 raka’at (sholat malam)(HR. Bukhori No. 1147 dan Muslim No. 738)

Dan dalam riwayat yang lain beliau (Aisyah Radhiyallahu’ anha) berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْهَا الْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ.

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam sholat pada malam hari 13 Raka’at termasuk di dalamnya sholat witir dan dua rakaat Sholat Fajar” (HR.  Bukhari No. 1140)

Begitu juga yang memperkuat pendapat ini adalah perintah Umar bin khatab ketika menghidupkan kembali sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dalam tarawih berjama’ah , beliau memerintahkan untuk ditegakkan dengan sebelas raka’at. Sebagaimana dalam Muwatha Malik (1/115) :

أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة

Artinya : “Umar bin Khatab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka’at” (Dishohihkan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Sholat tarawih 1/63)

Dan disunnahkan untuk melakukan sholat tarawih secara berjama’ah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Karena pada awalnya Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukannya secara berjama’ah kemudian beliau meninggalkannya karena beliau khawatiir akan diwajibkan atas umatnya. Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ.

Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam sholat di Mesjid pada satu malam maka sholat bersama beliau manusia (para sahabat), kemudian beliau sholat pada malam berikutnya maka manusia semakin banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam tidak keluar kepada mereka dan ketika shubuh beliau berkata : “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian kerjakan maka tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian kecuali aku khawatir akan diwajibkan kepada kalian “ Dan saat itu adalah bulan Ramadhan” (HR. Bukhori No. 1129 dan Muslim No. 761)

Dan kini Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah wafat dan wahyu telah terputus, yakni maknanya hukum syariat telah telah tetap dan tidak akan berubah sehingga tidak perlu lagi ditakutkan bahwa sholat tarawih akan menjadi wajib bagi kaum muslimin. Sehingga sholat tarawih secara berjama’ah menjadi sunnah yang harus dihidupkan sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memulai sunnah ini untuk pertama kali. Baca lebih lanjut

QODHO (MENGGANTI) PUASA

QODHO (MENGGANTI) PUASA

Qadha (mengganti) puasa bgi yang memiliki hutang puasa tidak wajib dilaksanakan secara berurutan dan boleh dilakukan secara terpisah. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama diantaranya dari kalangan para sahabat yaitu Muadz, Anas bin Malik, Abu Hurairah ,Ibnu Abbas dan dari Tabi’in adalah Sa’id Bin Zubair, Mujahid, Hasan Al-Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Bukhori, Syaikh Muqbil bin Hady dan Ibnu Utsaimin. Akan tetapi tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka bahwa lebih utama apabila dilaksanakan secara berurutan.

Boleh menunda Qadha dengan syarat tidak sampai memasuki Ramadhan berikutnya, ini adalah pendapat mayoritas ulama. Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Artinya : Aisyah Radhiyallahu’ anha berkata, “Aku memiliki tanggungan (hutang) puasa Ramadhan, dan aku tidak dapat mengqadhanya melainkan di bulan Sya’ban “ (HR. Bukhori No. 1959 dan Muslim No. 1146)

Barangsiapa yang meninggal dan masih memiliki tanggungan (hutang) puasa wajib, baik itu puasa nadzar, puasa kafaarat atau hutang dari puasa Ramadhan maka walinya berpuasa untuknya. Ini adalah pendapat ulama-ulama ahli hadits, Abu Tsaur dan  Al-Auza’i. Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Al-Baihaqi,Ibnu Hazm, Ibnu Hajar, As-Shan’ani, Syaikh Muqbil bin Hady dan Ibnu Utsaimin Rahimahumullah .Berdasarkan keumumman hadits Aisyah Rhadiyallahu’ anha, Rasulullah bersabda :

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Artinya : “Barangsiapa yang meninggal sedang ia masih menanggung kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.” (HR. Bukhori No. 1952 dan Muslim No. 1147)

Akan tetapi hukumnya bagi sang wali tidaklah wajib, Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Diantaranya adalah Ibnu Utsaimin Rahimahullah, beliau berdalil dengan firman Allah ta’ala :

وَلآ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Artinya : “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Al-An’am : 164)

Wali yang dimaksud dalam hadits ini adalah seluruh kerabat, baik ahli waris maupun bukan. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah .

Dan ini adalah hukum bagi yang meninggal dalam keadaan mampu untuk berpuasa dan belum menunaikan kewajibannya hingga dia meninggal , seperti wanita yang memilki hutang puasa dari Ramadhan karena haid atau nifas kemudian dia belum menunaikannya hingga dia meninggal. Maka berpuasa untuknya walinya.

Adapun bagi yang meninggal dalam keadaan tidak mampu untuk berpuasa seperti seseorang yang sakit parah mulai awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan yang berakhir dengan kematian maka tidak perlu bagi walinya untuk berpuasa baginya dan tidak wajib juga memberi makan orang miskin. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya adalah Al-Baihaqi dan An-Nawawi.

Berbeda halnya ketika seseorang yang sakit parah tidak berpuasa sejak awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan , kemudian dia sembuh dari penyakitnya pada awal syawal dan dia menunda melaksanakan kewajiban puasa yang dia tinggalkan pada bulan Ramadhan. Kemudian pada bulan dzulqo’dah dia meninggal dalam keadaan sehat. Maka dalam keadaan seperrti ini walinya berpuasa untuknya atas hutang puasa yang belum dia tunaikan.

Dan sebagian kaum muslimin banyak yang salah paham terhadap hadits ini, ditemukan di tengah kaum muslimin apabila ada seseorang yang meninggal pada pertengahan Ramadhan, maka sang wali menganggap bahwa yang meninggal memiliki hutang puasa dari pertengahan Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Dan ini tidak benar, karena sejak pertengahan Ramadhan orang yang meninggal tersebut tidak lagi dibebani syariat karena telah meninggal sehingga tidaklah dia memiliki tanggungan atau hutang yang harus ditunaikan oleh walinya.

Dan boleh bagi selain walinya untuk membayarkan hutang puasa bagi yang meninggal sehingga tidak terkhusus pada walinya saja. Ini adalah yang tampak dari pendapat Imam Bukhori. Dikarenakan Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memisalkannya dengan hutang dan sebagaimana sudah maklum bahwa hutang bisa dibayar oleh karib kerabat yang memiliki hutang ataupun selain karib kerabatnya. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma, beliau Shalallahu ‘alahi wassallam memisalkannya dengan hutang.

أن امرأة أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت  : إن أمي ماتت وعليها صوم شهر فقال أرأيت لو كان عليها دين أكنت تقضينه ؟ قالت نعم قال فدين الله أحق بالقضاء

Artinya : “Seorang wanita datang kepada Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam . Dia berkata, “sesungguhnya ibuku meninggal, sedang dia masih mempunyai kewajiban puasa satu bulan” . Maka Rasulullah berkata : “Apa pandanganmu apabila ibumu memiliki hutang apakah engkau akan membayarnya ?? “ wanita itu menjawab :”Ya” Beliau bersabda,: “maka , hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.” (HR. Bukhori No. 1953 dan Muslim No. 1148 . Dan Ini adalah lafadz dalam shohih Muslim )

MEREKA YANG DIBERI KERINGANAN BOLEH UNTUK TIDAK BERPUASA

MEREKA YANG DIBERI KERINGANAN BOLEH UNTUK TIDAK BERPUASA

Orang yang sedang sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan wajib baginya untuk menggantinya di hari-hari yang lain, akan tetapi dalam dua keadaan saja hal tersebut diperbolehkan :

Pertama : Sakitnya tersebut benar-benar menyebabkan dia tidak mampu berpuasa atau

Kedua : Dia mampu berpuasa akan tetapi akan mengakibatkan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya.

Dalil diperbolehkannya orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa adalah firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلآ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya : “Barangsiapa di antara kamu hadir (sedang tidak dalam safar) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Adapun sakit-sakit ringan yang tidak meyebabkan kesulitan dan bahaya apabila si sakit berpuasa, maka tidak diperbolehkan bagi dia untuk tidak berpuasa. Ini adalah pendapat As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah

Bagi orang orang yang sakit parah yang tidak diduga lagi akan sembuh (seperti koma) hukumnya sama dengan orang yang berusia lanjut yang tidak mampu untuk berpuasa (Insya Allah segera tiba pembahasannya)

Akan tetapi apabila pada kemudian hari orang yang sakit yang tidak diduga akan sembuh tiba-tiba sembuh tanpa disangka-sangka, maka wajib bagi dia untuk mengganti puasa yang dia tinggalkan tersebut. Ini adalah salah satu sisi pendapat Madzhab As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah dan pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah . berdasarkan keumumman firman Allah ta’ala :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya : “Dan barangsiapa yang sakit diantara kalian atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah : 184)

Orang yang berusia lanjut yang tidak mampu untuk berpuasa, boleh baginya untuk tidak berpuasa berdasarkan ijma’ sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundir, Ibnu Abdil Baar, Al-Qurthubi, dan Imam An-Nawawi Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: