Kumpulan hadits lemah dan palsu No. 51-60

HADITS KELIMA PULUH SATU

فقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد

“”Seorang alim (faqih) lebih kuat bagi setan dibanding seribu ahli ibadah”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas secara Marfu. Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Dho’iful Jami’ (3991) : “(Hadits) Palsu”

HADITS KELIMA PULUH DUA

كان إذا أفطر قال ” اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت”

“” Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila berbuka, mengucapkan doa : Ya Allah, Untukmu aku berpuasa dan diatas rejekimu aku berbuka”

Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Ibnu Sunni dari Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma dan Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jamus Shogir dari Anas  Rhadiyallahu’ anhu. Keduanya lemah. (Al-Irwa’ul Ghalil no. 919 dengan ringkas)

HADITS KELIMA PULUH TIGA

كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا دخل الخلاء وضع خاتمه

“Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila hendak masuk WC, beliau melepaskan cincinnya”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (19) dari Anas  bin Malik. Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah berkata : (Hadits) Mungkar. (Dho’if Sunan Abi Dawud No. 19) Baca lebih lanjut

Kumpulan hadits lemah dan Palsu No. 46-50

HADITS KE EMPAT PULUH ENAM

الساكت عن الحق شيطان أخرس

“Diam dari kebenaran adalah setan akhros”

Hadits ini tidak memiliki asal yang shahih maupun lemah dari Shalallahu ‘alahi wassallam bahkan dari sahabat maupun tabi’in. (Nukilan dari Tuhfathul Muhibbin. Hal. 81)

HADITS KE EMPAT PULUH TUJUH

صوموا تصحوا

“Berpuasalah maka kalian akan sehat”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dan Abu Nua’im dalam At-Tibb dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu(Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 253 dengan ringkasan)

HADITS KE EMPAT PULUH DELAPAN

طلب الحلال جهاد

Mencari nafkah yang halal adalah Jihad”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh Muhammad bin Makhlad dalam kitabnya Al-Fawa’id disandarkan dari Ibnu Abbas dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 1301)

Dalil tentang keutamaan mencari nafkah yang halal diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

ٍ        ”Seorang hamba memikul kayu bakar di atas punggungnya lebih baik baginya dibanding meminta seseorang, baik dia diberi atu tidak” (Bukhari-Muslim)

HADITS KE EMPAT PULUH SEMBILAN

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ، وَالْمَرْأَةَ الْمِغْزَلَ

“Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah dan wanita-wanita kalian  Merayu”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) sangat Lemah, Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab dari ibnu Umar secara marfu. (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah no. 2877 dengan ringkasan)

Datang pula dengan lafadz yang hampir serupa, silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3876.

Datang dengan lafadz  lain , datang dari Sa’ad bin Abi Waqosh Rhadiyallahu’ anhusecara marfu :

عليكم بالرمى فإنه من خير لعبكم

“”Wajib bagi kalian untuk (belajar) memanah, sesungguhnya memanah adalah sebaik-baik permainan”

Hadits ini dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 628.

Datang juga dengan lafadz :

كل شيء ليس من ذكر الله عز وجل فهو لهو أو سهو إلا أربع خصال مشي الرجل بين الغرضين وتأديبه فرسه وملاعبته أهله وتعليم السباحة

Artinya : “Segala sesuatu yang bukan merupakan dzikir kepada Allah adalah perbuatan yang sia-sia dan lalai kecuali empat perkara : Berjalanya seorang laki-laki antara dua tujuan, melatih kudanya, bermain-main dengan keluarganya dan belajar berenang “ (HR. At-Thabarni dari Jabir Bin Abdillah dan Jabir bin Umair Radhiyallahu’ anhum secara marfu)

Hadits ini dishahihkan Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No. 315

HADITS KELIMA PULUH

طلب العلم أفضل عند الله من الصلاة والصيام والحج والجهاد فى سبيل الله

“Menuntut ilmu lebih mulia di sisi Allah, dibanding Sholat, Puasa, Haji dan Jihad fi Sabiilillah”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) palsu. Dikeluarkan oleh Ad-dailami (2/268) dari Ibnu Abbas secara marfu.

Datang juga dengan Lafadz :

طلب العلم ساعة خير من قيام ليلة وطلب العلم يومًا خير من صيام ثلاثة أشهر

“Menuntut ilmu sesaat lebih baik dari sholat satu malam dan menuntut ilmu satu hari lebih baik dari puasa tiga bulan.”

Hadits dengan lafadz ini pun dihukumi sebagai hadits palsu oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah , Dikeluarkan oleh Ad-Dailami dari Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma secara marfu ( silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3828)

Kumpulan Hadits lemah dan palsu No. 46-50

HADITS KE EMPAT PULUH ENAM

الساكت عن الحق شيطان أخرس

“Diam dari kebenaran adalah setan akhros”

Hadits ini tidak memiliki asal yang shahih maupun lemah dari Shalallahu ‘alahi wassallam bahkan dari sahabat maupun tabi’in. (Nukilan dari Tuhfathul Muhibbin. Hal. 81)

HADITS KE EMPAT PULUH TUJUH

صوموا تصحوا

“Berpuasalah agar kalian sehat”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dan Abu Nua’im dalam At-Tibb dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu(Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 253 dengan ringkasan)

HADITS KE EMPAT PULUH DELAPAN

طلب الحلال جهاد

Mencari nafkah yang halal adalah Jihad”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh Muhammad bin Makhlad dalam kitabnya Al-Fawa’id disandarkan dari Ibnu Abbas dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 1301)

Dalil tentang keutamaan mencari nafkah yang halal diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

ٍ        ”Seorang hamba memikul kayu bakar di atas punggungnya lebih baik baginya dibanding meminta seseorang, baik dia diberi atu tidak” (Bukhari-Muslim)

HADITS KE EMPAT PULUH SEMBILAN

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ، وَالْمَرْأَةَ الْمِغْزَلَ

“Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah dan wanita-wanita kalian  Merayu”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) sangat Lemah, Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab dari ibnu Umar secara marfu. (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah no. 2877 dengan ringkasan)

Datang pula dengan lafadz yang hampir serupa, silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3876.

Datang dengan lafadz  lain , datang dari Sa’ad bin Abi Waqosh Rhadiyallahu’ anhusecara marfu :

عليكم بالرمى فإنه من خير لعبكم

“”Wajib bagi kalian untuk (belajar) memanah, sesungguhnya memanah adalah sebaik-baik permainan”

Hadits ini dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 628.

Datang juga dengan lafadz :

كل شيء ليس من ذكر الله عز وجل فهو لهو أو سهو إلا أربع خصال مشي الرجل بين الغرضين وتأديبه فرسه وملاعبته أهله وتعليم السباحة

Artinya : “Segala sesuatu yang bukan merupakan dzikir kepada Allah adalah perbuatan yang sia-sia dan lalai kecuali empat perkara : Berjalanya seorang laki-laki antara dua tujuan, melatih kudanya, bermain-main dengan keluarganya dan belajar berenang “ (HR. At-Thabarni dari Jabir Bin Abdillah dan Jabir bin Umair Radhiyallahu’ anhum secara marfu)

Hadits ini dishahihkan Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No. 315

HADITS KELIMA PULUH

طلب العلم أفضل عند الله من الصلاة والصيام والحج والجهاد فى سبيل الله

“Menuntut ilmu lebih mulia di sisi Allah, dibanding Sholat, Puasa, Haji dan Jihad fi Sabiilillah”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) palsu. Dikeluarkan oleh Ad-dailami (2/268) dari Ibnu Abbas secara marfu.

Datang juga dengan Lafadz :

طلب العلم ساعة خير من قيام ليلة وطلب العلم يومًا خير من صيام ثلاثة أشهر

“Menuntut ilmu sesaat lebih baik dari sholat satu malam dan menuntut ilmu satu hari lebih baik dari puasa tiga bulan.”

Hadits dengan lafadz ini pun dihukumi sebagai hadits palsu oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah , Dikeluarkan oleh Ad-Dailami dari Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma secara marfu ( silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3828)

HADITS KE EMPAT PULUH ENAM

الساكت عن الحق شيطان أخرس

“Diam dari kebenaran adalah setan akhros”

Hadits ini tidak memiliki asal yang shahih maupun lemah dari Shalallahu ‘alahi wassallam bahkan dari sahabat maupun tabi’in. (Nukilan dari Tuhfathul Muhibbin. Hal. 81)

HADITS KE EMPAT PULUH TUJUH

صوموا تصحوا

“Berpuasalah agar kalian sehat”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath dan Abu Nua’im dalam At-Tibb dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu(Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 253 dengan ringkasan)

HADITS KE EMPAT PULUH DELAPAN

طلب الحلال جهاد

Mencari nafkah yang halal adalah Jihad”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dikeluarkan oleh Muhammad bin Makhlad dalam kitabnya Al-Fawa’id disandarkan dari Ibnu Abbas dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 1301)

Dalil tentang keutamaan mencari nafkah yang halal diantaranya adalah hadits dari Abu Hurairah Rhadiyallahu’ anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

ٍ ”Seorang hamba memikul kayu bakar di atas punggungnya lebih baik baginya dibanding meminta seseorang, baik dia diberi atu tidak” (Bukhari-Muslim)

HADITS KE EMPAT PULUH SEMBILAN

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ، وَالْمَرْأَةَ الْمِغْزَلَ

“Ajarilah anak-anak kalian berenang dan memanah dan wanita-wanita kalian  Merayu”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) sangat Lemah, Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab dari ibnu Umar secara marfu. (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah no. 2877 dengan ringkasan)

Datang pula dengan lafadz yang hampir serupa, silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3876.

Datang dengan lafadz  lain , datang dari Sa’ad bin Abi Waqosh Rhadiyallahu’ anhusecara marfu :

عليكم بالرمى فإنه من خير لعبكم

“”Wajib bagi kalian untuk (belajar) memanah, sesungguhnya memanah adalah sebaik-baik permainan”

Hadits ini dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 628.

Datang juga dengan lafadz :

كل شيء ليس من ذكر الله عز وجل فهو لهو أو سهو إلا أربع خصال مشي الرجل بين الغرضين وتأديبه فرسه وملاعبته أهله وتعليم السباحة

Artinya : “Segala sesuatu yang bukan merupakan dzikir kepada Allah adalah perbuatan yang sia-sia dan lalai kecuali empat perkara : Berjalanya seorang laki-laki antara dua tujuan, melatih kudanya, bermain-main dengan keluarganya dan belajar berenang “ (HR. At-Thabarni dari Jabir Bin Abdillah dan Jabir bin Umair Radhiyallahu’ anhum secara marfu)

Hadits ini dishahihkan Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No. 315

HADITS KELIMA PULUH

طلب العلم أفضل عند الله من الصلاة والصيام والحج والجهاد فى سبيل الله

“Menuntut ilmu lebih mulia di sisi Allah, dibanding Sholat, Puasa, Haji dan Jihad fi Sabiilillah”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) palsu. Dikeluarkan oleh Ad-dailami (2/268) dari Ibnu Abbas secara marfu.

Datang juga dengan Lafadz :

طلب العلم ساعة خير من قيام ليلة وطلب العلم يومًا خير من صيام ثلاثة أشهر

“Menuntut ilmu sesaat lebih baik dari sholat satu malam dan menuntut ilmu satu hari lebih baik dari puasa tiga bulan.”

Hadits dengan lafadz ini pun dihukumi sebagai hadits palsu oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah , Dikeluarkan oleh Ad-Dailami dari Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma secara marfu ( silahkan merujuk Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 3828)

Kumpulan Hadits lemah dan palsu No. 31-35

HADITS KETIGA PULUH SATU

إن شهر رمضان معلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفط

“Sesungguhnya bulan ramadhan tergantung antara langt dan bumi, tidak diangkat kecuali dengan (menunaikan) zakat fitrah”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Lemah,  Dicantumkan dalam Al-Jami’us Shogir karya Ibnu Syahin dan Ad-Dhiya’ disandarkan dari Jarir Rhadiyallahu’ anhu. …………..hingga ucapan beliau (Al-Albani)…: Kemudian sesungguhnya seandainya Hadits ini Shahih, maka merupakan dalil yang jelas bahwa diterimanya puasa Ramadhan tergantung dikeluarkannya zakat fitrah. Maka barangsiapa yang tidak mengeluarkannya maka tidak akan diterimanya puasanya, maka aku tidak mengetahui satu orang pun dari ulama yang berpendapat seperti ni (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah no. 43 Dengan ringkasan dan sedikit perubahan)

HADITS KETIGA PULUH DUA

إن لكل شىء قلب وقلب القرآن يس من قرأ يس كتب الله له بقراءتها قراءة القرآن عشر مرات

“”Sesungguhnya pada (segala) sesuatu terdapat hati dan hati Al-Qur’an adalah surat Yasin, dan barangsiapa yang membacanya maka Allah mencatat untuknya ganjaran membaca Al-Qur’an sepuluh kali”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Palsu, Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (4/46) Ad-Darimi (2/456) Disandarkan dari Anas  Rhadiyallahu’ anhudari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 169 dengan ringkasan)

HADITS KETIGA PULUH TIGA

أول شهر رمضان رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار

“Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan bagian akhirnya adalah pembebasan dari api neraka “

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Mungkar, Dikeluarkan oleh Al-Uqoili dalam Ad-Dhuafa (172) Ibnu Adi (1/165) Disandarkan dari Abu Hurairah Rodiyallahu’ anhu , beliau berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam . (Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 1569 dengan ringkasan)

Salah satu hadits shahih tentang keutamaan Ramadhan adalah Hadits Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan ramadhan, dibuka pintu-pintu surga , ditutup pintu-pintu neraka dan dirantai setan-setan.” (Mutaffaqun alaih)

HADITS KETIGA PULUH EMPAT

أول ما خلق الله نور نبيك يا جابر

“Yang pertama diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai Jabir”

Hadist ini tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits yang dikenal. Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah (No. 458) tentang hadits diciptakannya malaikat dari cahaya : “Sesungguhnya hadits ini dalil yang jelas bahwasanya hanya malaikat saja yang mereka diciptakan dari cahaya, tidak termasuk adam dan keturunannya……….beliau juga berkata ….”Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang batilnya hadits yang tersebar di lisan-lisan manusia : “Yang pertama diciptakan Allah adalah cahaya nabimu, wahai Jabir” (Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah No. 458 Dengan ringkasan dan sedikit perubahan )

Hadits yang shahih tentang awal penciptaan adalah hadits Ubadah bin Shamit Rhadiyallahu’ anhu:

إن أول ما خلق الله القلم

“Yang pertama diciptakan Allah adalah Pena (Al-Qolam)”

Hadist ini Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Dishahihkan Al-Allamah Muqbil bin Hady Al-Wadi’i dalam Al-Jami’us Shahih fil Qodar (134) Dishahihkan pula oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Kitab-kitabnya diantaranya dalam Shahih Sunan Abi Dawud (4800)

Timbul pertanyaan, manakah yang lebih dahulu diciptakan Allah ?? Pena (Al-Qolam) atau Arsy Allah ?? Silahkan merujuk Syarah Aqidah At-Thahawiyah Ibnu Abil Iez

HADITS KE TIGA PULUH LIMA

تسحروا ولو بشربة من ماء وأفطروا ولو على شربة ماء

“Bersahurlah walaupun hanya dengan minuman air dan berbukalah walaupun hanya dengan minuman air”

Berkata Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah : (Hadits) Palsu. Diriwayatkan oleh Ibnu Adi (1/96) Disandarkan dari Ali Rhadiyallahu’ anhudari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam .

Adapun bagian lafadz yang pertama

تسحروا ولو بشربة من ماء

“Bersahurlah walaupun hanya dengan minuman air “

Adalah hadits shahih ating dari Ibnu Umar Rhadiyallahu’ anhuma dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dengan makna yang sama, dan dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah ( Nukilan Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoi’fah No. 1405 dan Shahih At-thargib 1071 Dengan ringkasan dan sedikit perubahan )

Adapun hadits tentang berbuka puasa dengan air , Insya Allah segera tiba pada hadits No. 58

Tata cara Sholat Ied

SHOLAT IED

Sholat Ied wajib atas setiap Muslim laki-laki merdeka (bukan budak). Ini adalah pendapat Abu Hanifah, satu riwayat dari Ahmad dan yang tampak dari ucapan imam As-Syafi’i. Dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Qoyyim , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As-Sayukani, Shidiq Hasan Khan, As-Sa’di dan Ibnu Utsaimin Rahimahumullah . Berdasarkan hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha :

أمرنا أن نخرج الحيض يوم العيدين وذوات الخدور فيشهدان جماعة المسلمين ودعوتهم ويعتزل الحيض عن مصلاهن قالت امرأة يا رسول الله إحدانا ليس لها جلباب ؟ قال ( لتلبسها صاحبتها من جلبابها )

Artinya : “Kami diperintah untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan Jama’ah dan dakwah kaum muslimin dan wanita yang haid diperintah untuk menjauhi tempat sholat wanita. Maka berkata seorang wanita : Wahai Rasulullah , salah seorang dari kami tidak memiliki Jilbab” maka beliau berkata :”:Hendaklah sahabatnya memakaikan padanya dari jilbab yang dia miliki” (HR. Bukhori No. 334 dan Muslim No. 890)

Berkata Imam As-Syafi’i : “Barangsiapa yang wajib atasnya menghadiri sholat Jum’at maka wajib atasnya menghadiri sholat dua hari raya”

Dan salah dalil yang menguatkan pendapat ini adalah ketika hari ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi yang sudah melakukan sholat ied tidak wajib baginya melakukan sholat Jum’at. Dalam keadaan bahwa Sholat Jum’at hukumnya Wajib, dan tidaklah menghilangkan sesuatu yang wajib kecuali dengan yang wajib pula.

Adapun hukum keluarnya wanita ke tanah lapang adalah Sunnah Mustahabah, tidak ada bedanya apakah wanita muda atau lanjut usia. Ini adalah pendapat Alqamah, Ishaq, Ahmad dalam satu riwayat, Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab.Dan boleh bagi wanita untuk sholat ied di rumahnya. Ini adalah pendapat Ibnu Rajab dan Malik.

Disunnahkan melaksanakan sholat ied di tanah lapang sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam melakukannya di tanah lapang, Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Kecuali apabila ada udzur seperti hujan . Hal ini berlaku pula bagi penduduk Madinah dan Masjidil Aqsha, karena Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam selama di madinah tidak pernah melakukannya di mesjid beliau bahkan beliau melakukannya di tanah lapang. Sebagaimana dalam hadits Ummu Atiyah yang telah lewat . Dan dikecualikan oleh Ulama adalah penduduk Makkah, maka mereka tetap melaksanakannya di Masjidil Haram.

Dan bagi para wanita yang sedang haid atau nifas maka ditempatkan terpisah dari jama’ah kaum muslimin sebagaimana dalam hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu’ anha .

CARA PELAKSANAAN SHOLAT IED:

Waktu sholat ied adalah sejak naiknya matahari dan telah hilang waktu yang dibenci untuk sholat . Ini adalah pendapat Ahmad. Dan berakhir waktunya ketika matahari tergelincir.

Tidak ada adzan dan tidak pula iqomah dalam sholat ied, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdulllah Radhiyallahu’ anhum, berkata atha’ Rahimahullah : Baca lebih lanjut

ZAKAT FITRAH

ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah diwajibkan kepada kaum muslimin bersamaan dengan diwajibkannya puasa Ramadhan yaitu pada pada tahun ke Dua Hijriyah. Zakat disebutkan dalam Al-Qur’an bergandengan dengan penyebutan Sholat terdapat di 26 tempat, Hal ini menunjukkan pentingnya zakat dalam syariat.

Zakat Fitrah wajib atas setiap muslim, laki-laki atau perempuan , besar ataupun kecil, merdeka atau budak. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma , beliau berkata :

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالانْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاةِ

Artinya : “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, kecil dan besar, laki-laki dan wanita dari kalangan kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat fitrah itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Idul Fitri).” (HR.Bukhori No. 1503 Muslim 984)

Dinukil Ijma’ tentang wajibnya zakat fitrah oleh Ibnul Mundzir dan Al-baihaqi sebagaimana dinukil oleh oleh An-nawawi Rahimahumullah . Walaupun sebenarnya terdapat perbedaan pendapat dalam masalah ini, dan yang berpendapat wajib adalah mayoritas ulama.dan cukuplah bagi kita hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma yang baru lewat tentang wajibnya zakat fitrah.

Dan bagi seorang istri maka dikeluarkan zakat fitrah dari hartanya, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma bahwa zakat fitrah wajib atas laki-laki dan perempuan, Ini adalah pendapat Ats-Tsauri, Abu hanifah  dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Mundzir. Adapun apabila sang istri tidak memilki harta untuk menunaikan zakat fitrah maka dikeluarkan dari harta suaminya.

Anak-anak yang memilki harta , maka dikeluarkan dari hartanya sendiri, adapun apabila tidak memilki harta maka yang menunaikan adalah yang berhak menafkahinya. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma bahwa zakat fitrah wajib atas dewasa dan anak kecil. Begitu juga anak yatim, wajib bagi mereka menunaikan zakat fitrah apabila mampu, Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Ibnu Qudamah. Dan apabila tidak mampu maka walinya yang menunaikannya.

Begitu juga orang gila, wajib bagi walinya mengeluarkannya dari harta orang gila tersebut. Apabila tidak memilki harta maka dikeluarkan dari yang wajib menafkahinya. Karena zakat fitrah adalah zakat yang terkait dengan jiwa, bukan terkait apakah dia dibebani syariat atau tidak. Sebagaimana zakat fitrah juga diwajibkan atas bayi yang baru lahir dalam keadaan seorang bayi tidak dibebani kewajiban syariat seperti sholat dan puasa.

Janin yang masih di dalam perut atas pendapat yang shohih tidak wajib atasnya zakat fitrah. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama, bahkan Ibnul Mundzir menukil Ijm’a dalam permasalahan ini. Karena janin yang belum keluar dari rahim tidak diberikan untuknya hukum-hukum syariat sebagaimana manusia yang sudah hidup ke dunia kecuali pada dua perkara : warisan dan wasiat , itupun dengan syarat apabila keluar dalam keadaan hidup.

Zakat fitrah diwajibkan bagi yang memilki kelebihan dari makanan bagi dirinya dan yang menjadi tangungannya pada malam iedul fitri hingga hari iedul fitri. Ini adalah pendapat Mayoritas ulama  diantaranya Malik, Az-Zuhri, Atha’, As-Syafi’i, Ahmad, Ibnul Mubarrok, Abu Tsaur dll. Sehingga tidak wajib zakat fitrah bagi yang tidak memilki makanan yang mencukupi bagi dirinya maupun yang menjadi tanggungannya pada malam ied  hingga hari ied. Adapun yang benar-benar tidak memiliki sesuatu untuk maka tidak wajib baginya zakat firah, sebagaimana dinukil Ijma’ oleh Ibnul Mundzir dalam permasalahan ini.

Ditunaikan zakat fitrah dengan jenis makanan pokok negeri tersebut, ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Malik, As-Syafi’ Ibnul Qoyyim dan Syaikhul Islam.Karena tujuan utama sedekah adalah untuk memberikan manfaat kepada fakir miskin dan tentunya lebih bermanfaat kepada mereka apabila yang diberikan adalah makanan pokok mereka sehari-hari, sehingga akan menjadi kurang sempurna apabila yang disedekahkan kepada mereka adalah makanan yang bukan merupakan makanan pokok mereka . Sebagaimana firman Allah tentang kafaarat melanggar sumpah :

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

Artinya : “Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu” (QS. Al-Maidah : 89)

Dan tidak cukup menunaikan zakat menggunakan uang. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Malik, Ahmad, As-Syafi’i , Ibnul Mundzir dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin. Karena pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah terdapat mata uang dinar dan dirham akan tetapi tidak pernah dinukilkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dan para sahabatnya mereka menunaikan zakat fitrah menggunakan dinar atau dirham dalam keadaan secara akal tentunya dinar dan dirham lebih mudah untuk digunakan. Dan agama tidak dibangun diatas akal akan tetapi dibangun diatas Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam .

Berat zakat fitrah yang wajib ditunaikan adalah 1 sha’ nabi Shalallahu ‘alahi wassallam sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar. 1 sha’ adalah 4 mud’ dan 1 mud adalah penuhnya 2 telapak tangan orang dewasa yang sedang , tidak besar maupun kecil.

Lajnah Da’imah lil Buhuts  wal Ifta’ (Dewan tetap untuk pembahasan (masalah syariat)dan fatwa) Saudi Arabia menaksir 1 Sha’ dengan berat kurang lebih 3 kg (Fatwa Lajnah Da’imah 9/371) begitu juga Syaikh Al-Bassam Rahimahullah beliau menaksirnya apabila dengan gandum berkualitas baik adalah seberat 3 Kilogram (Taudihul Ahkam 3/347). Adapun Ibnu Utsaimin Rahimahullah menaksirnya apabila dengan gandum yang berkualitas baik maka beratnya kurang lebih dengan 2 Kilogram 40 Gram (As-Syarhul Mumti’ 6/176)

Zakat fitrah wajib sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan (malam iedul fitri) . Ini adalah pendapat At-Tsauri, Ahmad , Ishaq , An-Nawawi dan satu riwayat dari Imam Malik, Dan wajib dikeluarkan sebelum keluarnya manusia menuju sholat Ied sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma yang telah lewat.

Zakat fitrah memiliki hukum khusus berbeda dari dari zakat-zakat lainnya (zakat harta, zakat barang temuan dll). Zakat fitrah tidak boleh dibagikan kecuali kepada fakir miskin, Inii adalah pendapat Syaikhul islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, dan As-Syaukani dan Al-Allamah Al-Albani Rahimahumullah . Sebagaimana Kafaarat memberi makan bagi orang yang bersumpah palsu atau orang yang membunuh secara tidak sengaja  tidak boleh diberikan kecuali kepada orang miskin begitu juga juga zakat fitrah. Dan yang menguatkan pendapat ini adalah Hadits Ibnu Abbas Rhadiyallahu’ anhuma :

فرض رسول الله صلى الله عليه و سلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah mewajibkan zakat Fitrah, Pembersih untuk orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada gunanya dan perkataan kotor dan makanan untuk orang-orang miskin” (Dihasankan Oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah Abu Dawud No. 1420)

Dan menurut pendapat yang shohih adalah tidak boleh membagikannya kepada fakir miskin sebelum waktunya yakni sebelum terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan (malam iedul fitri). Adapun yang dilakukan sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dengan menyerahkan zakat sehari atau dua hari sebelum ied[1] adalah menyerahkan kepada yang berhak mengumpulkannya (Amil zakat) bukan untuk dibagikan saat itu juga. Sehingga diperbolehkan mengumpulkan zakat sehari atau dua hari sebelum ied dan bukan untuk dibagikan sebelum waktunya.


[1] HR. Bukhari No. 1511

MALAM LAILATUL QADAR

MALAM LAILATUL QADAR

Atas pendapat yang shohih, Malam Lailatul Qadar terjadi diantara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan (21,23,25,27,29). Ini adalah pendapat Al-Hafidz, Abu Tsaur, Al- Mizzi, Ibnu Huzaimah, Ibnu Daqiqiel Ied dan sejumlah kalangan ulama. Berdasarkan hadits Aisyah dan Abu sa’id Radhiyallahu’ anhuma , Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya : ”Berjaga-jagalah (carilah) Lailatul Qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan” ( HR. Bukhari No. 2016-2017)

Dan bagi yang menghidupkan malam-malam lailatul qodar dengan ibadah yang disyariatkan maka dia termasuk yang dijanjikan mendapatkan keutamaan malam tersebut, walaupun dia tidak mengetahui bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadar. Ini adalah pendapat Ath-Thabari, Ibnu Arobi dan Sebagian ulama dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin Rahimahullah .

Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir, beliau semakin menggiatkan ibadahnya. Sebagaimana dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila telah memasuki sepuluh hari (terakhir dari Ramadhan), belliau membangunkan keluarganya (untuk beribadah), menggiatkan dan bersungguh-sungguh dalam ibadahnya” (HR. Muslim No. 1174)

Malam lailatul Qadar memilki beberapa tanda, diantaranya :

Hawa pada malam tersebut sedang, tidak panas tidak pula dingin. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

و هي ليلة طلقة بلجة لا حارة و لا باردة

Artinya : “Dan Malam lailatul qadar adalah malam yang cerah dan terang, tidak panas dan tidak pula dingin “ (HR. Ibnu Huzaimah dari Jabir dan Ibnu  Abbas, dan Diriwayatkan Ahmad dari Ubadah, datang juga dari sahabat yang lain dan dihasankan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Shohihul Jami’ No. 5472 atau 5475 )

Turun hujan pada malam tersebut, sebagaimana dalam hadits  Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhu , ketika beliau mengabarkan tentang jatuhnya malam lailatul qadar:

فمطرنا ليلة ثلاث وعشرين

Artinya : “Dan turun hujan pada kami pada malam dua puluh tiga (Ramadhan)” (HR. Bukhori No. 2118 dan Muslim No. 1168)

Pada pagi harinya matahari terbit tidak menyilaukan mata, berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu’ anhu :

والله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلى الله عليه و سلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها

Artinya : “ Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui pada malam keberapa malam itu (lailatul qadar) , malam itu adalah malam yang Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memerintahkan kami padanya untuk menghidupkannya yaitu malam dua puluh tujuh dan tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh hari itu berwarna putih dan tidak menyilaukan mata “ (HR. Muslim No. 762)

%d blogger menyukai ini: