Update Syamilah Versi 3.47

Update terbaru kembali dirilis untuk memperbaiki versi-versi sebelumnya,

Perbaikan mencakup : Tambahan properti dari layar Options dan diaktifkan secara default, memungkinkan program untuk mengenali kehadiran buku baru secara otomatis lebih komprehensif dan memberi pemberitahuan. Tidak perlu menekan tombol untuk mengupgrade hidup dari waktu ke waktu.

Memperbaiki kekurangan dalam impor, dan perbaikan lainnya pada tingkat kode

Silahkan Download disini

Iklan

Update Syamilah Versi 3.46

Update terbaru kembali dirilis untuk memperbaiki versi-versi sebelumnya,

Silahkan Download disini

Adakah Nabi atau Rasul dari kalangan Wanita ??

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang tidak adanya seorang Rasul dari kalangan para wanita. Adapun tentang masalah apakah ada nabi dari kalangan para wanita, maka sebagian ulama berpendapat dengan adanya nabi dari kalangan para wanita diantara mereka adalah Abul Hasan As-Asy’ari, Al-Qurthubi dan Ibnu Hazm Rahimahumullah. Akan tetapi pendapat ini lemah dan telah dilemahkan oleh ulama lainnya.

Salah satu dalil tentang tidak adanya rasul maupun nabi dari kalangan para wanita adalah firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ اتَّقَواْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Artinya : Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (QS Yusuf : 109)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ الْقُرَى أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ اتَّقَواْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Apakah seorang Nabi adalah Rasul ??

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang nabi dan rasul, sebagian berpendapat bahwa setiap rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Akan tetapi Al-Imam As-Syinqithy dalam Adhwaul bayan 5/735 berpendapat bahwa sebaliknya , yaitu setiap nabi adalah rasul dan setiap rasul adalah nabi, dan beliau berdalil dengan firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya : Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS-Al-Hajj : 52)

!$tBur $uZù=y™ö‘r& `ÏB y7Î=ö6s% `ÏB 5Aqߙ§‘ Ÿwur @cÓÉ<tR HwÎ) #sŒÎ) #Ó©_yJs? ’s+ø9r& ß`»sÜø‹¤±9$# þ’Îû ¾ÏmÏG¨ÏZøBé& ã‡|¡Yu‹sù ª!$# $tB ’Å+ù=ムß`»sÜø‹¤±9$# ¢OèO ãNÅ6øtä† ª!$# ¾ÏmÏG»tƒ#uä 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ3ym ÇÎËÈ

Adakah ulama yang Membolehkan Oral Seks ?

Telah datang pertanyaan dari seorang sahabat kami tentang ulama yang memperbolehkan melakukan oral seks ?? Beliau ragu ketika kami kabarkan, bahwa ada ulama ahlusunnah yang berpendapat bolehnya melakukan hal tersebut. Maka berikut catatan ringkas kami :

Salah satu ulama tersebut adalah Syaikh Abdullah Bin Baaz Rahimahullah ketika beliau memberikan catatan kaki (Ta’liq) terhadap Kitab Ar-Raudhul Murbi’ Syarah zaadil Mustaqnie pada  bab Haid ketika membahas larangan mendatangi istri pada Farji ketika Haid. Beliau memberikan ta’liq (secara makna) :

“Dia (suami) istimta’ (bernikmat-nikmat) dari istrinya dengan sesuatu yang lain (selain Farjinya) dengan tangan (istrinya) dan Mulutnya……” hingga ucapan beliau … “hingga keluar mani dan tidak boleh baginya mendatanginya pada farjinya”

(Ta’liq Ibnu Baaz Rahimahullah pada kitab Ar-Raudhul Murbi’ Syarah zaadil Mustaqnie pada  bab Haid Jilid 1 Hal 174. Catatan kaki No. 1. Cetakan Darul Atsar Mesir , Cetakan pertama Tahun 2006 M)

Ada banyak ulama-ulama lainnya selain beliau yang berpendapat tentang bolehnya melakukan oral seks, baik dari kalangan ulama terdahulu maupun masa kini. (Insya Allah pada catatan – catatan berikutnya)

Akan tetapi pendapat yang shohih adalah tidak bolehnya hal tersebut, silahkan baca artikel dan fatwa Ulama tentang permasalahan tersebut disini . Wallahu a’lam

Apabila Rasulullah meninggalkan sesuatu yang diperintahkannya

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Apabila Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memerintahkan suatu perkara dan kemudian beliau mengerjakan yang menyelisihinya maka menunjukkan perintah  tersebut tidak wajib “ (As-Syarhul Mumti’ 1/305)

Penjelasan

Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah mencontohkan bahwa perintah berwudhu dari sesuatu yang disentuh api (dimasak) hukumnya tidak wajib, karena shohih dari Nabi Shalallahu ‘alahi wassallam dalam hadits Jabir Rhadiyallahu ‘anhu bahwa beliau pada akhir umurnya meninggalkan berwudhu dari memakan sesuatu yang disentuh api (dimasak)

Beliau sendiri tidak berpendapat bahwa hadits Jabir Rhadiyallahu ‘anhu adalah penghapus hadits-hadits tentang wajibnya berwudhu dari sesuatu yang disentuh api (dimasak) beliau memilih dengan menggabung dalil-dall yang ada

Mengembalikan Kepada Adat dan kebiasaan Manusia

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Apabila datang dalil syar’i tentang sesuatu dan tidak datang syariat menjelaskan batasannya maka batasannya kembali kepada adat dan kebiasaan manusia.” (As-Syarhul Mumti’ 1/272)

Penjelasan :

Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah menjelaskan pula bahwa yang teranggap adalah adat dan kebiasaan pertengahan manusia, bukan berdasarkan pandangan setiap orang.

Misal penerapan kaidah ini adalah  telah disebutkan dalam syariat keringanan bagi orang yang safar untuk mengqashar (meringkas) sholatnya dalam keadaan tidak datang penyebutan dalam syariat tentang batasan jarak atau waktu sebuah perjalanan bisa dikatakan sebagai sebuah safar. Sehingga dengan kaidah ini maka dikembalikan kepada pandangan manusia yang adil dan pertengahan, apabila sebuah perjalanan dari satu daerah ke daerah tertentu telah mereka anggap sebagai sebuah safar maka berlakulah hukum-hukum safar. Wallahu A’lam

%d blogger menyukai ini: