Update Syamilah Versi 3.47

Update terbaru kembali dirilis untuk memperbaiki versi-versi sebelumnya,

Perbaikan mencakup : Tambahan properti dari layar Options dan diaktifkan secara default, memungkinkan program untuk mengenali kehadiran buku baru secara otomatis lebih komprehensif dan memberi pemberitahuan. Tidak perlu menekan tombol untuk mengupgrade hidup dari waktu ke waktu.

Memperbaiki kekurangan dalam impor, dan perbaikan lainnya pada tingkat kode

Silahkan Download disini

Iklan

Tindakan Wakil Dibangun Di atas Izin Yang Memberi Perwakilan

Salah satu Kaidah Fiqhiyah yang disebutkan ibnu Utsaimin Rahimahullahu :

Tindakan Wakil Dibangun Di atas Izin Yang Memberi Perwakilan

Penjelasan :

Beliau mencontohkan seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lainnya, “engkau wakilku untuk menthalaq iistriku pada tanggal 10 Dzulhijjah” kemudian sang wakil menthalaq istri yang diwakili tersebut pada akhir Dzulhijjah. Maka tidak jatuh thalaq, karena dia tidak diberi izin untuk menthalaq selain pada tanggal 10 Dzulhijah.

Beliau memberi contoh lain, seorang mewakilkan kepada orang lain untuk menthalaq istrinya pada bulan muharram, kemudian wakil itu menthalaq istri yang diwakilinya tersebut pada bulan Rabiul (awal), maka tidak jatuh thalaq karena thalaq itu tidak dibangun diatas izin yang memberi perwakilan. Kemudian Ibnu Utsaimin Rahimahullahu menyebutkan kaidah ini.

Ulama juga mencontohkan dalam perkara jual beli, seseorang mewakilkan pada orang lain untuk menjual barangnya, dan dia mengatakan “aku mewakilkan kepadamu untuk menjualkan barangku tapi tidak aku izinkan dijual di bawah harga 1 juta “ kemudian sang wakil menjualnya 950 ribu, maka jual beli tidak sah karena dia tidak mendapat izin untuk melakukan jual beli di bawah 1 juta.

Wallahu a’lam

Lihat Syarhul Mumti’ 13/32

Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

Update Syamilah Versi 3.46

Update terbaru kembali dirilis untuk memperbaiki versi-versi sebelumnya,

Silahkan Download disini

Hukum yang terkait dengan sebab apabila telewat ??

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“ Hukum yang terkait dengan sebab apabila tertinggal (terlewat) sebabnya maka hilanglah hukumnya “ (As-Syarhul Mumti’ 1/327)

Penjelasan :

Beliau berbicara tentang sujud syukur, Sujud syukur disyariatkan ketika seorang hamba menerima sebuah nikmat besar dan inilah sebab disyariatkannya sujud syukur dan tentunya tidak diketahui kapan datangnya hal tersebut dan terkadang datangnya secara tiba-tiba. Sehingga terkadang seseorang mendapatkan nikmat ini dalam keadaan sedang berhadats. Maka Apabila disyaratkan dalam sujud syukur untuk berwudhu maka terkadang dibutuhkan senggang waktu yang lama antara datangnya nikmat tersebut dan sujud syukur yang dia lakukan..

Oleh sebab itu beliau berpendapat bahwa dengan menggunakan kaidah yang telah disebutkan bahwa tidak disyariatkan dalam sujud syukur harus dalam keadaan suci. Karena apabila terlewat sebabnya maka hilanglah hukumnya

Tidak ada Hukum darurat dalam masalah Pengobatan

Termasuk dari Kaidah yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

“Tidak ada hukum darurat dalam masalah pengobatan” (As-Syarhul Mumti’ 1/453)

Penjelasan :

Beliau mengatakan bahwa terkadang seseorang yang yang sakit bisa sembuh tanpa obat yang katanya darurat tersebut dan sebaliknya terkadang seseorang tidak bisa sembuh walaupun meminum obat tersebut.

Beliau menyebutkan ini untuk melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa kencing unta adalah najis dan Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam memerintahkan untuk meminumnya dalam keadaan sudah jelas meminum sesuatu yang najis adalah haram dikarenakan karena darurat sebagai pengobatan. Maka beliau melemahkan pendapat ini dengan kaidah yang telah beliau sebutkan di atas. Beliau juga mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan obat untuk umat ini pada perkara-perkara yang diharamkan.

Mencocokki Sunnah lebih utama dari banyaknya amalan

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

Mencocokki Sunnah lebih utama dari banyaknya amalan (yang tidak sesuai sunnah) (As-Syarhul Mumti’ 1/407)

Penjelasan :

Beliau memisalkan orang yang memanjangkan sholatnya dalam sholat dua raka’at sebelum sholat Fajar,  maka ini walaupun secara amalan terhitung lebih panjang maka amalan ini tidak sesuai sunnah. Karena Rasulullah Shalallahu alaihi Wassallam meringankan (memendekkan) sholat tersebut sebagaimana dalam hadits Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha.

Beliau mencontohkan pula orang yang sholat sunnah sebelum Fajar yang melebihi dua raka’at.

Perintah dan larangan dalam hadits Lemah

Termasuk dari Qowaidhul  Fiqih yang disebutkan oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah adalah :

Larangan yang terdapat dalam hadits Dho’if (lemah) tidak bermakna pengharaman dan Perintah yang terdapat dalam hadits Dho’if (lemah) tidak bermakna perintah itu wajib (As-Syarhul Mumti’ 1/353)

Penjelasan :

Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah berpendapat bahwa perintah mandi bagi orang yang baru saja memandikan mayat adalah tidak wajib, karena beliau mengisyaratkan tentang lemahnya hadits :

“Barangsiapa yang memandikan mayat hendaknya dia mandi dan barangsiapa yang memikulnya hendaknya dia berwudhu” (Disandarkan dari Abu Hurairoh Rhadiyallahu anhu’ Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Kemudian beliau membawakan kaidah yang telah disebutkan diatas.

%d blogger menyukai ini: